Breaking News:

Ngopi Sore

180 Tewas di Paris, Kenapa Harus Dibanding-bandingkan dengan Palestina dan Suriah

Pembunuhan massal di Paris dan pembunuhan-pembunuhan massal di Palestina, Suriah, juga di Myanmar atau Mesir, dilihat dengan kaca pandang yang sama.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
FOTO-FOTO: DAILY MAIL

BARANGKALI memang sudah jadi tabiat sebagian orang di Indonesia yang merasa belum puas apabila tidak mengemukakan pandangan yang berbeda. Tak peduli mau benar mau ngawur, yang penting beda, lantaran dengan berbeda mereka akan jadi perhatian. Syukur-syukur jadi populer dan terkenal.

Dalam konteks yang sedikit lain (modusnya saya kira bukan untuk memburu popularitas), peristiwa pemboman dan penembakan di Paris, juga disikapi dengan kecenderungan serupa.

Jumat, 13 November 2015 waktu setempat (Sabtu dinihari waktu Indonesia), tiga bom meledak di seputaran stadion nasional Stade de France dan sedikitnya lima tempat keramaian dicecar peluru senapan otomatis. Data terakhir, sebanyak 180 orang tewas dan lebih dari 200 mengalami luka-luka.

Tak pelak, ini tragedi kemanusiaan. Nyawa manusia melayang untuk perkara yang absurd. Sampai di sini, kecenderungan tadi menyeruak. Tragedi Paris, pembunuhan massal yang mengerikan ini, segera diperbanding-bandingkan dengan pembunuhan-pembunuhan massal yang terjadi di Timur Tengah, terutama sekali di Palestina, Suriah, dan Irak. Juga tentu saja di Myanmar.

Seorang pesohor, penceramah yang sering tampil di televisi dan rajin berceloteh di media sosial, bilang begini: "kita berduka atas musibah yang terjadi di Paris, dan lebih berduka saat membayangkan bahwa di Suriah dan Gaza itu terjadi setiap waktu dan tak ada pemberitaan sama sekali."

Dengan segala hormat, saya kira kalimat ini sungguh jebluk atas dua perkara.

Pertama, barangkali Tuan Penceramah tidak terlalu sering membaca koran atau majalah atau menonton televisi. Atau mungkin beliaunya selama ini membaca koran dan majalah dan juga menonton televisi. Tapi barangkali beliau keliru memilih. Beliau kurang cermat pula dalam memilah.

Mungkin beliaunya sembarang saja membaca koran dan majalah dan menonton televisi sehingga tersesat di halaman gosip artis, ramalan bintang, teka-teki silang, atau sinetron di mana tokoh-tokohnya yang serba tampan dan cantik berubah jadi binatang buas.

Jika saja beliau mampu memilih dan memilah koran, majalah, televisi, atau media online yang baik dan benar, niscaya beliau akan mendapati fakta betapa setiap hari ada kabar dari Suriah dan Gaza. Seringkali pula mendapat porsi besar di halaman-halaman utama atau setidak-tidaknya headline di halaman internasional. "Sesial-sialnya" kisah human interest.

Barangkali beliau juga tidak memiliki akses ke portal-portal kantor berita foto yang berkedudukan di Eropa dan Amerika Serikat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved