Terkuak Alasan Mengapa Museum Sumatera Utara Kerap Disebut Gedung Arca

Dua buah koleksi arca yang diketahui bernama Makara ini adalah alasan mengapa museum ini dikenal dengan Gedung Arca.

Penulis: Tulus IT | Editor: Randy P.F Hutagaol
Terkuak Alasan Mengapa Museum Sumatera Utara Kerap Disebut Gedung Arca - museum-negeri-medan_20151215_171836.jpg
Tribun Medan/ Nanda Fahriza
Gedung Museum Negeri Medan yang tampak seperti rumah adat Batak, Selasa (15/12/2015).
Terkuak Alasan Mengapa Museum Sumatera Utara Kerap Disebut Gedung Arca - museum-negeri-medan_20151215_171903.jpg
Tribun Medan/ Nanda Fahriza
Sebuah Makara yang merupakan koleksi pertama museum. Makara merupakan arca yang berasal dari Padanglawas, tepatnya sekitar Candi Bahal, Selasa (15/12/2015).
Terkuak Alasan Mengapa Museum Sumatera Utara Kerap Disebut Gedung Arca - museum-negeri-medan_20151215_172013.jpg
Tribun Medan/ Nanda Fahriza
Sebuah Makara yang merupakan koleksi pertama museum. Makara merupakan arca yang berasal dari Padanglawas, tepatnya sekitar Candi Bahal

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda Fahriza

 TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tahukah Anda mengapa Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) kerap dikenal dengan sebutan Gedung Arca? Jika anda memasuki pintu masuk utama museum, Anda akan menemukan dua buah arca yang dipamerkan berjajar.

Dua buah koleksi arca yang diketahui bernama Makara ini adalah alasan mengapa museum ini dikenal dengan Gedung Arca.

Hal ini disampaikan oleh staf Edukasi dan Kebudayaan Museum Negeri Pemprovsu, Iwan, Selasa (15/12/2015). Ia menjelaskan bahwa dua buah arca Makara merupakan benda koleksi pertama yang dimilki museum. Kedua arca tersebut pertama kali diletakkan oleh Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno pada tahun 1954 silam.

"Dulu koleksi pertama di museum adalah dua buah arca markara ini. Arca ini diletakkan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada 28 Oktober1954. Karena yang pertama adalah arca-arca itu, jadi masyarakat mengenal museum ini sebagai Gedung Arca," tutur Iwan.

"Makara-Makara ini dibawa dari Padang Lawas, tepatnya di depan Candi Bahal. Peneliti memprediksi bahwa Makara ini adalah peninggalan zaman Hindu Buddha yang usianya lebih dari 3.000 tahun. Makara ini juga menjadi bukti penyebaran Hindu Buddha di Sumatera Utara pada zaman dahulu," ujarnya.

"Posisi peletakan candi memang sengaja kami letak di depan pintu masuk utama. Kami atur berdasarkan legenda arca yang merupakan penjaga sisi kanan dan kiri sebuah candi pada zaman dahulu. Namun ini juga dikarenakan kedua arca tersebut merupakan koleksi yang paling berharga di museum ini," kata Iwan.

Pantauan www.tribun-medan.com, bentuk kedua Makara terlihat seperti gabungan dua jenis hewan, yaitu gajah dan ikan. Terdapat bentuk belalai pada sisi depan Makara. Sedangkan bagian punggung Makara berwujud sisik yang biasanya dimilki seekor ikan.

"Jika kita lihat bentuknya mirip dengan gajah dan ikan. Karena memang jika kita lihat sejarahnya, kedua Makara ini merupakan hewan mitos zaman Hindu Budha dulu. Mitosnya hewan Makara ini hidup di Sungai Gangga," ujar Iwan.

Iwan juga menjelaskan, walau koleksi pertamanya diletakkan pada 1954, namun museum yang terletak di Jalan HM Joni ini baru diresmikan pada tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, Dr. Daoed Joesoef.

(cr5/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved