Pertahankan Ciri Khas, GPIB Immanuel Baru Tiga Kali Renovasi
Di Gereja yang dibangun pada masa kolonial Belanda ini, Anda bisa melihat masih banyak bagian bangunan yang dijaga dan dipertahankan.
Laporan wartawan Tribun Medan/ Wiwi Deriana
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Memasuki bagian dalam Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Medan, yang dibangun pada masa kolonial Belanda, Anda bisa melihat masih banyak bagian bangunan yang dijaga dan dipertahankan. Hanya sedikit perubahan pada gereja tua di Jalan Diponegoro ini.
Karyawan GPIB Immanuel Medan, Ruth, menuturkan gereja ini telah mengalami tiga kali renovasi. Yang pertama adalah tahun 1948. Lantai yang terbuat dari papan diganti dengan ubin. Pada tahun 1961, direnovasi pada dinding dan plafon karena sebagian telah rusak dimakan rayap. Pada tahun 1992, dinding menara diganti menjadi keramik dan pintu depan diganti dengan keramik berwarna biru.
Nuansa khas bangunan lama terasa begitu kental. Kursi-kursi lama masih dipertahankan. Plafonnya juga sebagian besar masih digunakan yang lama dengan ukiran-ukiran di sisinya. Untuk lampu hias yang berada di dalam gereja, juga masih memakai lampu hias pada jaman kolonial.
Di dalam gereja, ada dua balkon. Satu berada tepat di depan mimbar dan satu lagi berada di belakang mimbar. Balkon yang berada di depan mimbar dipergunakan umat sebagai tempat duduk ketika ibadah. Namun untuk balkon di belakang digunakan sebagai tempat paduan suara.
Di sebelah kiri dan kanan mimbar, ada tempat duduk dengan sekat kayu sebagai tempat duduk para petugas dalam pelaksanaan ibadah. Melihat ke arah jendela, Anda juga bisa melihat keunikan dari ukiran-ukiran indah. Di setiap kaca jendela yang mengeliling gereja seolah bercerita mengenai isi injil. Ada gambar salib, anggur, gandum, dan beragam gambar lainnya.
“Pintunya juga masih dipertahankan yang lama. Pintunya sangat berat. Bahkan karena bagusnya kayunya, tidak dimakan rayap. Jadi tetap bagus kayunya sampai sekarang,” kata Debi, pria yang bertugas membersihkan gereja.
Dari dalam gereja, Debi mengajak tribun-medan.com untuk melihat ruang konsistori (ruang persiapan majelis sebelum mengadakan ibadah). Ruangan ini juga masih dijaga keasliannya. Meja besar yang dikelilingi kursi. Serta lemari-lemari kayu tempat menyimpan barang-barang untuk keperluan ibadah.
“Kalau di sini, ada beberapa lemari yang sudah dimakan rayap. Mungkin akan diganti. Tapi yang lainnya masih asli semua,” katanya.
Awalnya, Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) Immanuel merupakan tempat peribadatan anggota gereja prostestan di Hindia Belanda dengan nama Indische Kerk atau Staatskerk. Pada masa tentara Jepang menduduki Indonesia, bangunan sempat beralih fungsi menjadi gudang sehingga jemaatnya beribadah di gedung gereja gerefmeerd (GKI sekarang).
“Sesudah perang dunia ke 2, gedung gereja kembali dipergunakan oleh jemaat dari gereja Anglican (Inggris). Pada tahun 1959, gereja ini secara penuh menjadi milik GPIB Immanuel dengan pendeta pertamanya pdt P. Souhoka,” kata Immanuel, Ruth.
Ada juga Gedung Alfa Omega yang berdiri di samping gereja dan disewakan untuk umum. Gedung serba guna ini juga sudah mengalami perubahan dari bentuk awalnya. Awalnya, gedung merupakan tempat tinggal pendeta. Kemudian diganti dan dibangun aula yang bisa disewakan untuk mengadakan acara. (der/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gpib_immanuel_medan_20151223_171449.jpg)