Dekatkan Telinga Anda dan Dengar Suara Mistis dari Meriam Puntung
Ia mengaku lebih dari lima menit, baru mendengar dengungan tersebut tapi dibantah oleh temannya yang baru menempelkan telinga sudah bisa mendengarkan
Laporan Wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Legenda dari sebuah kota menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi tempat wisata.
Meriam Puntung memiliki legenda paling terkenal yang wajib dikunjungi jika sedang melancong ke kota Medan, meriam tersebut ditempatkan di sebelah kanan Istana Maimoon di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimoon.
Bukan sekadar pajangan meriam, konon meriam tersebut merupakan jelmaan Putri Hijau, anak raja dari Kesultanan Deli di Medan. Jika pengunjung menempelkan telinga ke badan meriam, maka suara dengungan yang mirip tangisan.
Puluhan pengunjung yang datang dari berbagai kota pun mencoba menempelkan telinga ke badan meriam. Ada yang mengatakan mendengar suara dengungan, ada pula yang bilang mendengar suara seperti orang merintih atau menangis.
"Suara dengungan gitu, tapi harus menempelkan telinga agak lama. Kok bisa ya?" ucap seorang pengunjung yang cukup lama menempelkan telinga dari sudut kanan badan meriam.
Ia mengaku lebih dari lima menit, baru mendengar dengungan tersebut tapi dibantah oleh temannya yang baru menempelkan telinga sudah bisa mendengarkan suara dengungan tersebut.
Cerita misteri dan suara dari Meriam menjadi daya tarik wisatawan untuk masuk ke dalam.
Tidak perlu mahal untuk masuk, cukup merogoh kocek Rp 3 Ribu pengunjung langsung dapat melihat “belahan” Meriam dan mendengarkan legendanya langsung dari penjaga tempat tersebut.
Meriam tersebut merupakan bagian belakang meriam, sedangkan belahan satunya lagi berada di Desa Sukanalu Tanah Karo Sumatera Utara bersama pelurunya.
Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli hidup seorang putri cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa.
Pangeran jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang Yazid dan Mambang Khayali.
Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.
Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Saat terjadinya perang, saudara laki-laki Putri Hijau menjelma menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh.
Karena menembak terus menerus, meriam itu panas berlebihan sehingga pecah (puntung). Sisa “pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di dua tempat, yakni di Istana Maimoon,dan di Desa Sukanalu (Tanah Karo).
Cara menuju Meriam Puntung, pelancong yang datang dari luar kota atau bandara harus menaiki Kereta Api (KA) menuju stasiun KA Lapangan Merdeka, dari Lapangan Merdeka naik becak bermotor ke Jalan Brigjen Katamso, dengan tarif sekitar Rp 20 Ribu turun di depan Istana Maimun, lokasi meriam puntung juga diletakkan.
Saridah, penjaga tempat wisata Meriam Puntung, menuturkan Meriam Puntung banyak dikunjungi oleh pelajar se-Sumatera Utara dan luar kota. Mulai dari daerah Balige, Nias, Dairi, Karo, Asahan hingga Binjai juga mengunjungi tempat tersebut untuk praktek pelajaran Sejarah.
Pelajar mencatat cerita legenda Meriam Puntung dan mengambil dokumentasinya. Bukan hanya siswa, pengunjung dari luar kota juga melakukan hal yang sama, seperti menempelkan telinga untuk mendengar suara dengungan, kemudian mencatat dan mengambil foto.
"Meriam Puntung menimbulkan suara yang misterius, hal tersebut belum bisa dipecahkan secara rasional. Hingga menjadi penarik wisatawan untuk melihat dan mendengar langsung," katanya.
Menurutnya, pengunjung yang datang tidak bisa diprediksi. Bisa sehari penuh kunjungan hingga 50 orang, tapi terkadang tidak ada satu pun pengunjung. Bisa ramai sekali jika sedang dikunjungi wisatawan dari sekolah dan bus pelancong.
(sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/meriam-puntung-tribun-medanco_20160203_134815.jpg)