Pancaran Kedamaian di Gereja Tua GPIB Immanuel Medan

Pada lonceng raksasa yang dimiliki gereja tertulis tahun pembuatan dan kota pembuatan, yakni pada tahun 1922 di Den Haag, Belanda.

Tayang:
Tribun Medan/ Wiwi Deriana Sembiring
Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Medan, Rabu (23/12/2015). 

Laporan wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Keindahan yang tidak boleh anda lewatkan saat menyambangi bangunan rumah ibadah atau wisata religi adalah Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) ImManuel di Jalan Diponegoro, Medan.

Gereja tersebut unik karena masih ini masih memiliki lonceng yang semasa pembangunannya juga telah ada yakni sekitar pada tahun 1921 dibangun, lonceng ada pada 1922. Pada lonceng raksasa yang dimiliki gereja tertulis tahun pembuatan dan kota pembuatan, yakni pada tahun 1922 di Den Haag, Belanda.

Pesona gereja ini dilambangkan pada putih keramik yang mewarnai dinding gedung yang kokoh. Bangunan ini tidak terlampau besar, namun kemegahannya terasa dari setiap detail gedung. Dengan menara yang berbentuk kubah dan jam dinding di masing-masing sisinya menambah kekayaan aksitektur yang bernuansa Belanda kuno.

Pintu dengan cat coklat tua juga khas bangunan Belanda. Kubah pada menara gereja ini juga membedakan desainnya dengan gereja-gereja lain di Medan. Kubah tersebut kental sekali dengan peninggalan Belanda, setiap jam dinding yang berada di masing-masing sisi gereja tampak tak berfungsi lagi.

Kekokohan gedung gereja ini terlihat dengan desain atap yang terbuat dari kayu yang tersusun rapi membentuk atap tidak seperti atap rumah atai bangunan pada umumnya. Namun itu nilai historis dan keunikan gedung gereja ini.

Saat memasuki gereja yang dialasi dengan karpet merah anda akan disambut desain interior gedung yang menawarkan nuansa alamiah dan ketenangan karena di dalam gedung didominasi kayu.

Kayu pada mimbar, kursi-kursi jemaat juga berbahan kayu, kotak persembahan dan plafon yang menghiasi langit-langit juga berbahan kayu.

Sedangkan suasana ala Belanda tetap tidak terlewarkan yakni gantungan lampu hias yang sangat indah serta langit-langit bagunan yang melengkung mengingatkan pada gedung-gedung peninggalan Belanda.

Begitu pula ruang majlis dan ruang pegawai, barang-barang didominasi berbahan kayu atau barang tempo dulu.

Riana, pengunjung menuturkan memasuki gerbang gereja suasana asri dan tenang sudah terpancar.

"Tidak ada keributan atau suara bising sehingga terasa teduh dan tenang, belum lagi aneka pohon dan tanaman bunga yang menambah kesan asri gereja membuat wisatawan atau jamaah yang datang tentunya nyaman ke gereja ini," jelasnya.

Walaupun berada di depan mesjid Agung, keberagaman dan ketentraman umat beragama saling menghargai membuat suasana di sana semakin nyaman. (sil/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved