Ngopi Sore

Suntik Mati PSSI

Atas segenap kekacauan yang terjadi selama ini, PSSI mesti direformasi total, mesti direvolusi. Gerbong yang telah tercemar, harus angkat kaki.

Suntik Mati PSSI
http://ongisnade.co.id
Ilustrasi 

ACARA cakap-cakap di satu stasiun televisi swasta nasional, perihal kondisi terakhir persepakbolaan nasional (khususnya konflik Menteri Olahraga dengan PSSI), berbuntut panjang. Seorang pembicara pada acara itu, Partoba Pangaribuan, mengaku diancam diintimidasi, dan akhirnya dianiaya oleh sejumlah orang yang ia sebut mengaku sebagai suporter sepakbola.

Ancaman dan intimidasi terjadi saat acara berlangsung. Sedangkan penganiayaan setelahnya. Bahkan sebelum ia meninggalkan studio stasiun televisi itu.

Persoalan tidak berhenti di sini. Partoba Pangaribuan memaparkan peristiwa yang dialaminya di Facebook. Dalam sekejap, paparan ini meluas.

Partoba tergabung dalam Forum Diskusi Suporter Indonesia (FDSI), satu kelompok yang dibentuk di media sosial untuk mendiskusikan hal-hal berkaitpaut PSSI (juga tim nasional dan sepakbola nasional secara menyeluruh). Di FDSI, komentar demi komentar yang bermunculan. Umumnya membela Partoba.

Tapi di luar FDSI, kasus ini disikapi dari sudut pandang bertolak belakang. Partoba dibilang suporter cengeng. Cuma digertak dan didorong-dorong saja sudah "mewek", mengoceh di Facebook, membesar-besarkan persoalan dan berencana melapor polisi. Bukan sikap suporter sejati yang "tidak takut berkelahi". Padahal, kata mereka, dia tidak diapa-apakan. Cuma ditegur dengan kata-kata yang agak keras.

Perkembangan terakhir, Partoba, yang merasa keselamatannya terancam, menyewa pengawal atawa bodyguard. Dan bodyguard ini, disebut-sebut telah melakukan penganiayaan terhadap seorang suporter dari kelompok yang berseberangan pendapat dengan Partoba dan kelompok.

Kasus Partoba Pangaribuan ini mau tak mau membuat saya tertawa. Tentu bukan sebangsa tawa sebagaimana umumnya tawa yang muncul sebagai reaksi saat melihat segenap tingkah polah Rowan Atkinson yang menyaru sebagai Mr Bean. Tetapi tawa yang absurd. Sejenis tawa dalam luka, kata penyair Sutardji Calzoum Bachri. Tawa yang berangkat dari kesedihan, dari keprihatinan.

Partoba, setidaknya menurut pengakuan dia, telah diancam dan diintimidasi sebelum ia memberikan pandangannya di acara cakap-cakap tadi. Pascaberpendapat, ia diserang. Mereka, kata Partoba menyebut penyerangnya, marah karena saya bilang PSSI sudah tidak tertolong hingga sebaiknya disuntik mati saja.

Bukan cuma orang-orang yang mengaku suporter, di tengah acara, Partoba juga mendapatkan tanggapan keras dari Adhyaksa Dault, mantan Menteri Olahraga yang sekarang mengurus pramuka dan konon berminat jadi Gubernur Jakarta.

Dault berpandangan kalimat Partoba tidak pantas dan memaksa yang bersangkutan mencabutnya, dan entah gentar pada sorot mata Dault yang tajam dan kumisnya yang berkibar-kibar itu, Partoba menurut. Partoba minta maaf, menarik kalimatnya soal suntik mati, namun tetap berpendapat bahwa PSSI era kepemimpinan La Nyalla Mattalitti sudah tidak dapat diharapkan lagi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved