Ngopi Sore

Melihat Gerhana dari Panggung Dangdutan yang Aduhai

Betapa 33 tahun setelah hari yang mencekam itu, peristiwa yang sama disambut dengan kegirangan yang gegap gempita.

Melihat Gerhana dari Panggung Dangdutan yang Aduhai
Int
ILUSTRASI 

ADA dua hal yang membekas di ingatan saya dari Gerhana Matahari di tahun 1983. Pertama, iklan yang sungguh luar biasa kampungan di TVRI. "Hanya satu cara melihat gerhana dengan aman, lihatlah melalui layar TVRI Anda," demikian bunyinya.

Kedua, itulah kali pertama saya tahu bahwa ada seorang penyanyi bernama Rhoma Irama. Sejumlah tetangga saya, memperdengarkan bunyi-bunyian yang berasal dari kaleng rombeng, ember, baskom, tabung besi, kentongan, permukaan meja dan lain sebagainya. Dari bunyi- bunyian yang awalnya tak teratur berubah jadi bernada, dan entah bagaimana, seorang di antaranya kemudian memeriahkannya dengan syair lagu yang belakangan saya tahu berjudul 135 juta.

Perkara Rhoma Irama, tentulah, tidak terlalu penting. Pelantunan lagunya waktu itu cuma kecelakaan asyik yang berangkat dari satu mitos yang diyakini turun-temurun: gerhana terjadi karena matahari ditelan Batara Kala dan cara untuk mengusirnya adalah dengan bunyi-bunyian yang riuh.

Akan halnya iklan TVRI jauh lebih menarik. Bukan semata lantaran kampungan. Lebih jauh, iklan ini merupakan representasi dari kehebohan luar biasa yang mencuat. Kehebohan, yang sedikit banyak, dipicu oleh sikap pemerintah.

Entah siapa yang membisiki, para pengambil keputusan di jajaran pemerintahan pimpinan Presiden Soeharto, menyikapi fenomena alam yang terjadi pada tanggal 11 Juni ini sebagai bencana yang berpotensi mendatangkan malapetaka besar. Larangan menatap matahari secara langsung, didengungkan ke seluruh penjuru negeri, terutama lewat dua corong utama pemerintah: TVRI dan RRI.

Media-media massa, koran maupun majalah, di pusat maupun daerah, dipaksa menerbitkan relis resmi pemerintah, yang meski pun bodoh, memang senyata-nyatanya mesti diterbitkan jika tak ingin mati konyol.

Makin dekat ke momentum gerhana, larangan semakin menjadi-jadi. Pemerintah memusnahkan kacamata khusus untuk melihat gerhana (dibuat dari kaca film). Alasannya, kacamata itu tidak dijamin bisa membuat mata terhindar dari kerusakan.
Lalu terbit imbauan baru. Masyarakat diminta tidak meninggalkan rumah. Sekolah-sekolah diliburkan. Para pegawai negeri, juga pekerja-pekerja swasta, diperbolehkan pulang lebih awal. Ketakutan berlebihan yang pada akhirnya menghadirkan kekonyolan.

Saya masih ingat betul, kepala dusun di Desa Puyung, Lombok Tengah, NTB, tempat saya tinggal ketika itu, meminta ayah saya menutup jendela, lubang ventilasi, sela pintu, bahkan lubang-lubang kunci, supaya cahaya matahari yang sedang mengalami gerhana, tidak masuk ke dalam rumah. Cahaya itu, tidak cuma membutakan, tapi juga bisa membunuh, katanya.

Saya tidak tahu persis apakah larangan yang berlebihan ini berhubungan dengan apa yang kemudian dikenal dengan sebutan Petrus atau tidak. Petrus, akronim 'penembak' (atau 'penembakan'?) 'misterius', merupakan salah satu tragedi kemanusiaan dalam sejarah Indonesia. Konon "diarsiteki", Ali Moertopo, satu dari empat orang kepercayaan Soeharto di masa itu, praktik pemberantasan pelaku kejahatan lewat eksekusi yang dilegalkan ini dimulai persis satu bulan sebelum gerhana terjadi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved