Rencanakan Menjadi Monaco of Asia, 8.913 Unit Keramba Jaring Apung Masih Ada di Danau Toba

Kepala BLH Hidayati mengatakan, terdapat sekitar 8.912 unit Kerambah Jaring Apung (KJA) di kawasan Danau Toba.

Rencanakan Menjadi Monaco of Asia, 8.913 Unit Keramba Jaring Apung Masih Ada di Danau Toba
KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES
Pemandangan Danau Toba di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu (19/4/2015). Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia yang tercipta dari hasil letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) pada 75.000 tahun silam. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda F. Batubara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) Hidayati mengatakan, terdapat sekitar 8.912 unit Kerambah Jaring Apung (KJA) di kawasan Danau Toba. Data tersebut dihimpun dari hasil analisis yang dilakukan BLH pada 2013 silam.

"Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan BLH pada 2013, KJA yang ada di Danau Toba berjumlah 8.912 unit. Jumlah tersebut terdiri dari 8.428 unit KJA masyarakat dan 484 KJA milik Aquafarm," ujar Hidayati saat dihubungi, Jumat (11/3/2016).

Menurut Hidayati, kasawan Danau Toba saat ini memiliki sembilan titik Keramba Jaring Apung (KJA) milik masyarakat. Kesembilan titik itu adalah Silalahi II sebanyak 300 unit KJA, Silalahi III sebanyak 40 unit KJA, Paropo sebanyak 400 unit KJA, Tongging sebanyak 500 unit KJA, Haranggaol sebanyak 6.768 unit KJA, Tigaras sebanyak 85 unit KJA, Panahatan sebanyak 100 unit KJA, Sibaganding sebanyak 50 unit KJA dan Soalan sebanyak 185 KJA.

Selain itu, PT Aquafarm juga memiliki KJA yang berada di lima titik, yakni di Panahatan sebanyak 152 unit KJA, Sirungkungon sebanyak 134 unit KJA, Silimalombu sebanyak 60 unit KJA, Lontung sebanyak 60 unit KJA dan Pangambatan sebanyak 78 unit KJA.

Menurut Hidayati, limbah perikanan yang dihasilkan per tahunnya mencapai 1,5 ton dari. Limbah tersebut berasal dari KJA milik masyarakat. Sementara itu, PT Aquafarm menyumbang sekitar 1,9 ton limbah dari KJA. Menurut Hidayati, pakan ikan tersebut merupakan penyumbang pencemaran air Danau Toba terbesar karena mengandung unsur BoD, CoD dan Fosfor.

Hidayati menjelaskan, kawasan Danau Toba memang sudah melebihi parameter dari BoD, CoD dan Fosfor. Selain itu, Danau Toba juga sudah tidak memiliki daya tampung terhadap beban pencemar yang melebihi ambang batas tersebut. Hal inilah yang membuat budidaya perikanan harus dikurangi saat ini.

Namun sayangnya, Hidayati mengaku bahwa pihaknya belum melakukan tindaklanjut untuk mengatasi pencemaran lingkungan di Danau Toba hingga saat ini.

"Saat ini kami masih mempersiapkan data agar pengambilan keputusan tidak lari dari konsep yang berwawasan lingkungan, saat ini saya masih menunggu arahan dari pemerintah pusat juga dari Plt Gubernur," ujar Hidayati.

(cr5/tribun-medan.com)

Penulis:
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved