Ikrar: Bu Ani Pernah Jadi Apa? Kasihan Bisa Dipermalukan Kalau Jadi Capres

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bakti menyarankan Partai Demokrat untuk menimbang-nimbang

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES
Istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono, berpose di stan yang memajang koleksi kain batiknya di pameran Gelar Batik Nusantara 2015, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2015). Acara yang diikuti ratusan pengusaha, penjual dan perajin batik ini akan berlangsung hingga 28 Juni. 

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bakti menyarankan Partai Demokrat untuk menimbang-nimbang lagi soal wacana menjadikan Ani Yudhoyono sebagai calon presiden dalam Pilpres 2019.

Ia menilai, Ani tidak memiliki elektabilitas maupun kapasitas yang mumpuni untuk memimpin Indonesia.

"Saya pokoknya engggak usah ngeledekin, tapi apakah Partai Demokrat sudah menimbang elektabilitas dan kapasitas Bu Ani? Jangan karena dia istri mantan Presiden seolah elektabilitasnya akan tinggi," kata Ikrar saat dihubungi, Rabu (16/3/2016) pagi.

Ikrar menyadari, Partai Demokrat mungkin terinspirasi dari Hillary Clinton yang maju sebagai calon presiden Amerika Serikat setelah suaminya, Bill Clinton, menyelesaikan jabatan selama dua periode.

Namun, Ikrar menilai, Ani dan Hillary tidak bisa disamakan. Sebab, Hillary sejak awal memang terlibat dalam politik praktis, pernah menjadi Senator hingga Menteri Luar Negeri.

"Bu Ani pernah jadi apa? Kasihan Demokrat dan Bu Ani sendiri, bisa dipermalukan kalau maju elektabilitas kecil," ujar Ikrar.

Ikrar pun mempertanyakan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah berjanji bahwa keluarganya tidak akan maju sebagai calon Presiden. Harusnya, kata dia, SBY komit dengan ucapannya.

"Apakah janji itu hanya berlaku untuk Pemilu 2014 kemarin atau bagaimana?" ujar dia.

Perbandingan antara Ani dan Hillary disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf.

Layaknya Hillary, Nurhayati meyakini bahwa pengalaman Ani selama sepuluh tahun mendampingi SBY bisa menjadi modal besar.

"Bahkan Ibu Ani Bisa lebih hebat dari Hilary Clinton," kata Nurhayati.

Wacana Ani sebagai bakal capres Demokrat muncul setelah adanya pengakuan dari Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul.

Ruhut mengakui bahwa gambar Ani Yudhoyono Capres Demokrat 2019 yang beredar di media sosial adalah buatan tim DPP Demokrat.

Dalam foto tersebut, Ani menggunakan baju berwarna biru khas Demokrat melambaikan tangan dengan latar belakang bendera Merah Putih.

Foto dilengkapi tulisan "Lanjutkan!" dan juga tagar "#AniYudhoyono2019".

Berbeda dengan Ruhut, Ketua Divisi Komunikasi Publik Demokrat Imelda Sari mengatakan, hingga saat ini tidak ada pembahasan soal calon presiden 2019 di internal partainya.

Hingga saat ini, kata dia, pihaknya masih fokus pada konsolidasi di daerah untuk menghadapi Pilkada serentak 2017. (*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved