Ngopi Sore

Maha Benar La Nyalla dengan Segala Akal Bulusnya

Menurut La Nyalla, keputusan Kejati Jawa Timur tidak lepas dari campur tangan Imam Nahrowi.

Maha Benar La Nyalla dengan Segala Akal Bulusnya
SUPER BALL/FERI SETIAWAN
LA Nyalla Mattaliti 

BABAK baru kisruh PSSI dimulai. La Nyalla Mattaliti, Ketua Umum PSSI, otoritas olahraga sepakbola yang sedang dibekukan pemerintah, ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Rabu, 16 Maret 2016, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, menetapkannya sebagai tersangka korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2012.

Apa hubungannya dengan La Nyalla? Apa hubungan kasus ini dengan PSSI? Secara langsung, tentu saja tidak ada. La Nyalla ditersangkakan atas dugaan keterlibatannya, di mana yang bersangkutan saat itu menjabat Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Timur.

Adalah La Nyalla sendiri yang kemudian menghubung-hubungkan status tersangkanya dengan PSSI. Lebih jauh, dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrowi.

Menurut La Nyalla, keputusan Kejati Jawa Timur tidak lepas dari campur tangan Imam. Ia menenggarai, Imam lewat koleganya di pemerintahan, menekan Kejati Jawa Timur. "Ini politik. Ini sudah jelas (bertujuan) untuk menggulingkan saya dari PSSI," katanya, yang kemudian dikutip oleh banyak media di tanah air.

Benarkah Imam melakukan intervensi? Bisa benar, bisa tidak, dan tudingan ini bisa dibuktikan. Di panggung politik, hal yang paling tidak masuk akan sekalipun bisa saja terjadi, bukan?

Akan tetapi, yang tak kalah memukau adalah pernyataan La Nyalla sesudahnya. Belum-belum ia sudah membangun benteng opini. Bahwa status tersangka, tidak akan dapat menjungkalkannya dari kursi Ketua Umum PSSI.

Tamengnya, tiada lain ada tiada bukan, adalah Statuta FIFA dan Statuta PSSI sendiri. Di dalam statuta itu, memang, tidak terang betul disebutkan perihal status hukum Ketua PSSI atau orang yang bisa menjadi Ketua PSSI.

Celah yang sebelumnya pernah dimanfaatkan Nurdin Halid. Bahkan lebih dari La Nyalla, atas kepiawaian memanfaatkan celah ini, Nurdin sukses membuat PSSI tercatat sebagai satu-satunya otoritas olahraga yang dipimpin oleh orang yang berada di balik jeruji penjara.

Apakah Statuta ini sebangsa kitab suci, sehingga harus ditaati dengan keimanan penuh lantaran ingkar, ganjarannya neraka? Saya kira tidak. Statuta adalah undang-undang bikinan manusia, dan selayaknya manusia yang hakekatnya tiada sempurna, statuta dapat diubah, disempurnakan, dan dalam situasi tertentu, kalau perlu, dilanggar.

Situasi macam apa? Situasi macam sekarang. Atau macam di era Nurdin Halid dulu. Situasi di mana kemanusiaan, moralitas, kesadaran diri, jauh lebih penting dibanding sederet huruf dan angka yang tercetak kaku di atas kertas.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved