Ngopi Sore

Tak Apa Rio, Baru Satu Seri, Dicoba Lagi

Formula One adalah etalase, dan 22 pembalap yang berlaga musim ini adalah "dagangan".

Tak Apa Rio, Baru Satu Seri, Dicoba Lagi
AFP PHOTO/PAUL CROCK
RIO Haryanto 

SEORANG kawan langsung berkomentar begini saat race director mengabarkan bahwa satu mobil tidak bisa melanjutkan balapan pascalomba dihentikan akibat insiden tabrakan Alonso-Guiterez, dan mobil itu dikemudikan pembalap Indonesia Rio Haryanto: dasar mobil rongsokan 150 milyar!

Umpatan yang telak, dan barangkali potensial menjadi trending tropic, apabila dua lap berselang, Kimi Raikkonen tidak mengalami hal serupa. Mobil yang ia kendarai menepi ke pit stop, mogok, lalu terbakar.

Apakah Ferrari juga rongsokan? Tentu saja tidak. Ferrari adalah tim super. Tim kelas satu dengan dua pembalap mahal dan tiap tahun memiliki dana berlimpah untuk pengembangan mesin dan sasis. Sama sekali tidak dapat diperbandingkan dengan Manor. Jaraknya ibarat langit dengan dasar sumur.

Lalu kenapa Ferrari bisa mengalami nasib serupa Manor? Apakah dana triliunan yang mereka kucurkan untuk pengembangan hanya berbuah kesia-siaan. Jika melihat betapa menakjubkan laju dan akselerasi Ferrari yang dikendarai Sebastian Vettel, rekan Raikkonen, pastinya tidak. Pengembangan ini berhasil. Lalu apa? Sebatas kesialan?

Sesungguhnya, kesialan juga tidak. Satu-satunya pembalap yang sial di seri pertama Formula One 2016 di Melbourne, adalah Esteban Guiterez, pembalap Haas. Sedang asyik-asyiknya melaju, mobilnya diseruduk dari arah belakang oleh pembalap McLaren, Fernando Alonso. Guiterez melintir dan harus keluar dari balapan. Pula begitu Alonso, yang meskipun harus ikut keluar, patut bersyukur karena atas kecelakaan yang demikian mengerikan, ia tidak mengalami luka berarti.

Lantas, jika bukan kesialan, apa, dong? Kekurangtelitian dan ketidakcermatan. Iya, tidak teliti dan tidak cermat, dan di ajang balapan level Formula One, akibatnya akan fatal sekali.

Mobil-mobil Formula One tidak sama dengan mobil pada umumnya. Bahkan tidak sama dengan mobil-mobil yang juga digunakan untuk ajang adu cepat lain. Mobil-mobil Formula One sepenuhnya bergantung pada teknologi. Mulai dari mesin sampai tekanan angin pada ban, ditangani dengan sentuhan teknologi.

Manor telah memberikan keterangan. Rio Haryanto terpaksa harus menghentikan debutnya di lap 17. Saat berada di pit lane, mekanik melihat ada masalah pada bagian driveline. Masalah itu ternyata tidak berhasil diperbaiki dan kepala mekanik Manor menyarankan pada Rio untuk menghentikan balapan. Sebab jika dilanjutkan, selain bisa merusak mobil, juga bisa membahayakan keselamatan Rio.

Sekali lagi, teknologi mengambil peranan sangat penting. Teknologi Mercedes, Ferrari, Renault, Honda, dan McLaren, lebih maju dibanding teknologi tim-tim yang lain. Termasuk Manor. Bukan cuma kecepatan tapi juga kekuatan, stabilitas, dan daya tahan. Jika dihadapkan satu lawan satu, Manor kontra Mercedes, misalnya, Rio Haryanto lawan Lewis Hamilton atau Nico Rosberg, meski diletakkan beberapa meter di depan, hanya dalam satu dua lap mobil Manor pasti tersusul.

Pertanyaannya, untuk apa berlomba jika tak memiliki peluang untuk juara satu? Ini pertanyaan yang pastinya akan mengemuka. Sebab memang begitulah hakekat perlombaan. Menuju satu titik untuk menang. Mengutip Jose Mourinho, juara itu hanyalah juara pertama, kedua dan seterusnya adalah pecundang.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved