Ngopi Sore

Astaga, Demi Sejengkal Perut, Sopir-sopir Taksi Nekat Perang

Langkah terbaik menyikapi perkembangan teknologi adalah menyesuaikan diri. Mengabaikan, apalagi menampik, hanya akan berujung pada ketertinggalan.

Astaga, Demi Sejengkal Perut, Sopir-sopir Taksi Nekat Perang
AFP PHOTO/ADEK BERRY

SAYA sudah pernah merasakan langsung enak dan nyamannya naik GoJek, tapi belum pernah naik Uber, setidaknya di Jakarta. Saya pernah dua kali naik Uber di Kuala Lumpur. Tapi waktu itu, saya tidak tahu, atau tepatnya belum tahu, bahwa itu Uber.

Saya kira, mobil yang saya tumpangi bersama sejumlah kawan tersebut semacam mobil sewaan biasa saja. Di Medan, mobil seperti ini disebut mobil rental. Jenisnya bermacam. Ada minibus, ada MVP, sedan, bahkan ada SUV, dan semuanya menggunakan pelat nomor polisi berwarna hitam. Tarifnya dihitung perhari. Dalam kota atau luar kota, dengan atau tanpa supir, tarifnya berbeda.

Uber di Jakarta, setidaknya dari informasi yang diberikan beberapa kawan, juga demikian. Dan sebenarnya tidak cuma di Jakarta, di seluruh penjuru dunia pun, Uber, atau moda kendaraan umum berbasis teknologi online lain yang memakai nama berbeda, seperti Grab atau Hail O, kebanyakan memang menggunakan mobil-mobil berpelat nomor warna hitam, pelat untuk mobil-mobil pribadi.

Belakangan, moda transportasi ini melesat jadi favorit. Di Kuala Lumpur, di Singapura, di London, di Paris, di New York, dan kota-kota besar lain, keberadaannya telah menggeser dominasi taksi-taksi konvensional yang berbasis argometer. Belum sampai mematikan. Namun dari hari ke hari, persentase perbandingan pemakaiannya semakin melebar.

Meminjam istilah Bre Redana yang menyoal "persaingan" media konvensional (media cetak) dengan media online atau daring (akronim 'dalam jaringan'), taksi-taksi konvensional, taksi-taksi argo (sebutan yang lebih jamak untuk menyebut taksi argometer), mulai memasuki masa senjakala.

Fenomena serupa mulai terjadi di Jakarta. Serupa alasan pilihan atas GoJek dan meninggalkan ojek pangkalan, para pengguna taksi di Jakarta ramai-ramai berpaling ke Uber, dan Grab, karena dengan menaikinya mereka merasa lebih nyaman dan aman. Selain tentunya lebih murah, tapi sekaligus lebih modern dan elite.

Sama sekali tidak ada yang mengagetkan. Ini reaksi alamiah manusia, terutama yang hidup di kota. Mereka akan selalu mencari, lalu mencoba, sesuatu yang baru. Apabila dirasakan lebih baik, dengan parameter-parameter tertentu, mereka akan segera berpaling. Jarang sekali ada fanatisme, apalagi kesetiaan.

Reaksi terhadapnya juga tidak mengagetkan. Di kota-kota besar lain di dunia, taksi berbasis online juga ramai-ramai diprotes. Di Paris dan New York, bahkan sempat pecah "perang". Sopir taksi konvensional versus sopir taksi online. Setelah saling berbalas unjukrasa, pergesekan fisik terjadi. Pada 25 Juni 2015, ribuan polisi turun tangan menengahi pergesekan yang semakin panas. Pada hari itu, puluhan unit mobil yang digunakan untuk taksi online dirusak dan dibakar. Sebulan kemudian, di New York, pecah kerusuhan serupa.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved