Ngopi Sore

Senjakala Taksi Argo

Keberadaan taksi berbasis online telah menggeser dominasi taksi-taksi konvensional yang berbasis argometer.

Senjakala Taksi Argo
KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES

Pada 25 Juni 2015, ribuan polisi turun tangan menengahi pergesekan yang semakin panas. Pada hari itu, puluhan unit mobil yang digunakan untuk taksi online dirusak dan dibakar. Sebulan kemudian, di New York, pecah kerusuhan serupa.

Perkara yang paling utama adalah regulasi. Taksi online berpelat nomor pribadi, bagaimana mereka membayar pajak? Apakah pajak yang dikenakan adalah pajak untuk mobil pribadi, atau pajak untuk kendaraan komersil? Jika hanya membayar pajak mobil pribadi, mereka memperoleh untung dua kali lipat.

Atas protes ini, pemerintah di negara-negara itu menerbitkan regulasi khusus. Baik menyangkut pajak maupun mekanisme operasional. Ada yang dialihkan jadi moda transportasi massal umum resmi, diberi pelat kuning. Ada yang tetap berpelat hitam namun terhadap mereka diberlakukan pengawasan yang lebih ketat. Pajak yang dikenakan atas mereka disetarakan dengan pajak untuk kendaraan umum resmi.

Satu dua negara mengambil langkah lebih jauh. Inggris, misalnya, menawarkan pada perusahaan-perusahaan taksi untuk mengubah basis kerja mereka, dari argo menjadi online. Sekarang, hanya kurang dari 30 persen taksi di Inggris yang beroperasi dengan basis non online.

Apa boleh buat, langkah terbaik dalam menyikapi perkembangan teknologi adalah menyesuaikan diri. Mengabaikan, apalagi menampik, hanya akan berujung pada ketertinggalan, bahkan kekonyolan.

Pergesekan antara taksi argo dan online baru memuncak di Jakarta pada hari-hari belakangan ini. Padahal Uber dan Grab sudah beroperasi kurang lebih setahun. Seperti di negara-negara lain sebelumnya, protes terkait regulasi dibarengi protes lain yang dikedepankan dengan dengan cara-cara anarkis: penyisiran (sweeping), pengadangan, yang kemudian diikuti perusakan dan penganiayaan.

Hari ini di Jakarta, para sopir turun ke jalan. Mereka menggelar aksi unjukrasa. Mereka mogok bekerja. Ribuan taksi diparkir. Mereka lalu menyisir tiap jengkal jalan di Jakarta, mencari Uber dan Grab. Para sopir yang menolak ikut mogok, dipaksa mogok. Yang tetap menolak, taksinya dirusak dan sopirnya dipukuli.

Tidak hanya sopir taksi online, para pengendara GoJek juga jadi sasaran amuk. Hal yang kemudian menyulut pergesekan yang lebih tajam. Pengemudi GoJek yang jumlahnya juga ribuan, membalas perlakuan terhadap rekan mereka.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved