Ngopi Sore

Senjakala Taksi Argo

Keberadaan taksi berbasis online telah menggeser dominasi taksi-taksi konvensional yang berbasis argometer.

Senjakala Taksi Argo
KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Anarkis? Tentu saja. Tapi saya berpikir ini bukan sepenuhnya salah sopir-sopir taksi argo. Sebaliknya, ini juga reaksi alamiah. Sopir-sopir itu punya keluarga. Punya anak istri, punya orang tua, adik kakak dan sanak saudara lainnya yang barangkali juga jadi tanggungan mereka. Uber, dan Grab, menyusutkan penghasilan mereka secara drastis. Perusahaan taksi tempat mereka bernaung semakin kesulitan, megap-megap, terancam gulung tikar. Sekali lagi, ini reaksi alamiah. Reaksi ketakutan manusia.

Lalu siapa yang pantas dipersalahkan? Pertama, pemerintah, yang dalam hal ini lamban bereaksi. Menteri Informasi dan Teknologi memuji teknologi Uber dan Grab. Itu memang tugasnya. Namun bagaimana menyingkronkan pujian ini dengan regulasi yang merupakan wewenang Kementerian Perhubungan? Bahkan sampai pecah amuk para sopir taksi argo, tetap belum ada titik temu antara Rudiantara dengan Ignatius Jonan.

Kedua, para pemilik atau bos-bos perusahaan taksi argo. Sekian lama berada di puncak kedigdayaan tanpa saingan, mereka barangkali terlena, mungkin malah tak mau tahu, sehingga tidak siap menghadapi gelombang perubahan yang dibawa teknologi. Mereka berhenti berinovasi. Sementara zaman menuntut demikian.

Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang bos perusahaan taksi. Mengacu pada heboh yang disebabkan Gojek, saya bertanya bagaimana jika fenomena ini bergeser ke taksi. Perlu digarisbawahi, saat saya bertanya itu, di Malaysia dan Singapura, demam taksi online sedang melanda.

Dia tertawa. Katanya, bedakan antara taksi dengan ojek. Masak Anda mau samakan taksi kami dengan ojek pangkalan, yang benar saja, bilangnya lagi. Taksi, terlebih-lebih taksi dari perusahaan yang ia pimpin, memiliki reputasi yang tinggi di Indonesia. Dan bagi orang-orang Indonesia, ucapnya pula, reputasi ini sungguh penting.

Sekarang fenomena itu sedang terjadi, dan mereka kelimpungan. Dan atas kekelimpungan mereka, para sopir jugalah yang akhirnya ikut menjadi korban. Para sopir yang harus turun ke jalan, yang demi kelangsungan hidup keluarganya, mau tak mau, sadar tak sadar, terpaksa menunjukkan sikap kampungan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jalan penyelesaian yang akan diambil pemerintah. Apakah "merekayasa" aturan, atau melenyapkan taksi berbasis online dari Indonesia?

twitter: @aguskhaidir

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved