Ngopi Sore

PrayForParis, PrayForTurkey, PrayForBrussels, PrayForLahore, Sebenarnya Kita Berdoa untuk Siapa?

Hingga lewat 12 jam pascaledakan, kecuali di Pakistan, tidak ada anjuran doa. Dan sudah barang tentu tidak ada yang mengganti foto profilnya

PrayForParis, PrayForTurkey, PrayForBrussels, PrayForLahore, Sebenarnya Kita Berdoa untuk Siapa?
FOTO-FOTO: AFP PHOTO/DAILY MAIL

JOHAN Cruyf pernah membuat orang-orang yang merasa diri religius, blingsatan karena marah. Mereka menganggap Cruyff sebagai penghina agama, penghina Tuhan, dan puncaknya, pendosa. Saat itu, Cruyff melatih Barcelona, dan berbicara pada media perihal kebiasaan para pemainnya berdoa sebelum pertandingan.

"Di Spanyol saya melihat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengesankan kereligiusan. Tapi saya kira itu tak banyak berguna. Berdoa sebelum pertandingan? Jika Tuhan ada di lapangan sepakbola, ada mengabulkan tiap doa itu, maka sepakbola tidak akan mengenal kata kalah."

Cruyff barangkali memang bukan orang yang religius, terutama jika dilihat dari kacamata orang- orang Spanyol. Juga orang-orang yang marah karena ucapannya Hingga pensiun dari lapangan hijau, memang tidak sekali pun ia berdoa di lapangan, baik sebelum maupun usai pertandingan. Apakah dia tidak pernah berdoa?

"Tentu saja saya berdoa. Saya berdoa di gereja, tiap akhir pekan, dan di hari-hari di mana saya memang harus berdoa," ucapnya pula.

Johan Cruyff, maestro dari Belanda, meninggal dunia akhir pekan lalu karena kanker paru-paru dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengenangnya. Saya sekadar teringat pada Cruyff, lebih tepatnya, teringat pada kalimatnya terkait doa, saat mendapati betapa gencarnya anjuran untuk berdoa di media-media sosial.

Doa untuk para korban peledakan bom. Di Paris, di Istanbul, di Brussels, dan paling anyar di Lahore, Pakistan. Anjuran yang ditampilkan sedikit banyak dengan bergaya: menggunakan bahasa Inggris dan menempatkan tanda pagar di depannya (#).

Tentu, tidak ada salahnya berdoa menggunakan bahasa Inggris, bahasa Eskimo atau bahasa para alien sekalipun, entah itu bertagar atau tanpa bertagar. Emha Ainun Nadjib, yang sering berdoa menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, dalam satu pengajiannya yang pernah saya hadiri, bilang bahwa Tuhan berkenan ketika manusia, yang diberikan akal pikiran, menciptakan bahasa-bahasa. Karena itu pula Tuhan akan mendengar, menerima, dan memberikan jawaban atas doa dalam bahasa apapun.

Dan tentu saja, menganjurkan berdoa adalah perbuatan mulia. Islam menyebutnya sebagai syiar. Akan tetapi, ketika anjuran tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tak lagi menyerupai anjuran, maka secara tak langsung ia telah menjelmakan teror yang lain.

Terlebih-lebih apabila dasar penganjurannya adalah pembanding-bandingan dengan parameter yang picik: jumlah penulisan anjuran berdoa dengan dan tanpa tagar, serta jumlah pengguna media sosial yang mengubah foto profil dengan bendera negara yang mendapatkan teror.

Tatkala Paris dibom oleh kelompok peneror, dunia memang segera bereaksi. Halaman-halaman Facebook, di Twitter, di Path, Instagram, dan berbagai media sosial lain, riuh oleh berbagai ucapan simpati. Ada anjuran doa. PrayForParis. Ada juga yang menuliskan 'SaveParis' atau 'JeSuitParis'. Ada foto-foto profil yang diubah.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved