Ngopi Sore

Islam Minoritas dan Anti Islam: Apakah Nyonya Suu Kyi Memang Sekadar Tukang Kibul?

Nyonya Suu Kyi, kenapa jika Mishal Husain seorang pemeluk Islam? Pertanyaan macam apakah yang Anda harapkan dari wartawan yang bukan Islam?

Islam Minoritas dan Anti Islam: Apakah Nyonya Suu Kyi Memang Sekadar Tukang Kibul?
www.vox.com

TAHUN 1991, Aung San Suu Kyi diganjar Nobel Perdamaian. Penghargaan tertinggi bagi manusia yang dianggap sebagai penyuara kemanusiaan di atas bumi terkasih ini. Atas dasar yang sama, Suu Kyi menerima banyak penghargaan prestisius lain. Sebutlah, misalnya: Jawaharlal Nehru Award, The International Simon Bolívar Prize, dan Benazir Bhutto Award.

Apa arti penghargaan-penghargaan ini? Tiada lain adalah pengakuan bahwa Nyonya Suu Kyi merupakan seorang pejuang kemanusiaan yang terhormat. Lebih tepatnya demokrasi dan hak azasi. Ia berani bersuara ketika rezim penguasa di negerinya, Myanmar, melakukan berbagai macam bentuk pembungkaman.

Arti lain boleh jadi kekaguman. Nyonya Suu Kyi, perempuan berperawakan kurus, ternyata bernyali besar. Jeruji penjara sama sekali tak menyurutkan keberaniannya. Cekalan demi cekalan, sebaliknya, justru membuat dia semakin garang dan lantang.

"You should never let your fears prevent you from doing what you know is right," katanya saat junta militer Myanmar mengharuskannya menjalani tahanan rumah. Kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal. Tentang ketakutan, tentang keberanian, dan pilihan atas nama kebenaran.

Nyonya Suu Kyi memenangkan pertarungan dengan junta militer yang kian terdesak oleh tekanan demokrasi barat. Setidaknya, ia mendapatkan ruang yang lebih besar untuk bersuara. Setidaknya, ia bisa tampil ke depan, berbicara di panggung, membakar emosi massa, tanpa harus waswas dijebloskan ke penjara. Setidaknya, ia menjelma selebritis politik.

Perubahan situasi inilah yang kemudian, pelan-pelan, menyeruakkan kecurigaan-kecurigaan terhadap Nyonya Suu Kyi. Kecurigaan bahwa ia sebenarnya tak sebesar yang dicitrakan oleh media massa. Kecurigaan bahwa ia sesungguhnya memandang kemanusiaan, memandang demokrasi dan hak azasi, dengan batasan-batasan. Yakni batasan dari sudut pandangnya sendiri.

Tatkala ribuan (atau barangkali malah jutaan) warga Myanmar dari etnis Rohingya dibantai dan diusir dari tanah mereka, Nyonya Suu Kyi tidak angkat bicara. Padahal jelas, pembantaian dan pengusiran ini adalah penindasan terhadap kemanusiaan yang tidak main-main.

Kenapa? Apakah lantaran etnis Rohingya merupakan etnis minoritas di Myanmar? Apakah karena mereka merupakan keturunan kaum pendatang, tidak murni berdarah Burma, dan sebagian besar beragama Islam?

Atau jangan-jangan, Nyonya Suu Kyi, seperti umumnya para pejabat junta militer dan sebagian besar politisi Myanmar serta para pemuka agama mayoritas, juga membenci Islam?

Nyonya Suu Kyi tidak pernah menjawab. Tiap kali mendapatkan pertanyaan perihal Rohingya, ia akan memilih bungkam, atau menghindar, atau mengalihkan percakapan ke topik lain.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved