Ngopi Sore

La Nyalla, Kamu di Mana, dengan Siapa, Sedang Berbuat Apa?

La Nyalla menjadi tersangka karena kasus yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola, berbeda dari kasus Sepp Blater, jadi tak perlu mundur.

La Nyalla, Kamu di Mana, dengan Siapa, Sedang Berbuat Apa?
INTERNET
LA Nyalla Mattaliti 

BARANGKALI memang sudah jadi nasib kita selalu mendapatkan ketua-ketua PSSI yang sungguh aduhai. Apakah nasib ini nasib baik atau nasib buruk, saya tidak tahu. Tergantung pada dari sudut pandang mana Anda melihat dan di kubu mana Anda berpihak.

Orang-orang yang "mencari makan" dari sepakbola, dalam hal ini bukan pemain, pelatih, atau individu dan kelompok lain yang profesional, tentu saja akan menganggapnya sebagai nasib baik. Sepak terjang ketua-ketua PSSI ini membuka celah-celah bagi mereka untuk ikut mereguk untung.

Sebaliknya, para profesional, atau kaum yang entah dengan cara bagaimana masih mampu menjaga idealisme di tengah kehirukpikukan sepakbola yang makin kental dengan identitas baru sebagai industri, keberadaan ketua-ketua ini adalah petaka. Karakter mereka terbunuh. Bahkan banyak di antaranya yang kemudian dienyahkan, tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk berkiprah lagi.

La Nyalla Mattaliti menggantikan Nurdin Halid dan ia tiada kalah licin dari pendahulunya yang legendaris itu. Bahkan barangkali lebih licin. Sebab selicin-licinnya Nurdin, dia tak pernah sampai membuat polisi di republik ini sibuk, sehingga, konon katanya, harus membuka komunikasi dan bekerjasama dengan interpol segala.

Selicin-licinnya Nurdin, dia tak pernah menghilang tatkala kasus kejahatan yang dilakukannya tengah diproses oleh para penegak hukum. Nurdin menghormati proses ini. Ia mendatangi kejaksaan, hadir menjalani persidangan di pengadilan, lalu menerima vonis. Ketika kemudian ternyata penjara tak sanggup menjatuhkannya dari kursi kekuasaan, itu persoalan lain.

La Nyalla lebih maju selangkah dari Nurdin. Terlepas apakah dia kabur, lari, menghilang, atau apapun istilahnya, yang jelas hingga kali ketiga pemanggilan untuk pemeriksaan kasus dugaan korupsi di mana ia telah ditetapkan sebagai tersangka, dia tidak pernah hadir.

Lalu ke mana La Nyalla? Selentingan beredar, ia berada di Malaysia. Perkiraan ini berdasarkan pada catatan imigrasi yang tercatat sehari sebelum perintah cegah dan tangkal terhadap dirinya diterbitkan. Jika benar, maka marjin keunggulan La Nyalla dari Nurdin Halid semakin lebar. Betapa tidak, La Nyalla sepertinya diberkahi insting yang luar biasa tajam, sehingga bisa tahu, pada dirinya akan dikenakan cegah dan tangkal, lantas cepat bergerak sebelum itu terjadi.

Sampai di sini muncul satu pertanyaan. Kenapa ia memilih Malaysia? Kenapa bukan ke Kolombia seperti yang dilakukan mantan politisi Partai Demokrat, M Nazaruddin? Kenapa bukan ke Arab Saudi yang sangat ia akrabi lantaran nyaris saban tahun membawa belasan orang menjalani umrah? Kenapa bukan Singapura, ke China, atau ke Botswana, atau ke Antartika sekalian? Kenapa Malaysia?

Memang, saat ini La Nyalla Mattaliti belum pasti berada di Malaysia. Bisa jadi tujuan utamanya adalah Singapura atau Thailand atau negara-negara lain yang tak memiliki perjanjian ekstradiksi dengan Indonesia. Dengan kata lain, Malaysia hanya jadi persinggahan. Pun demikian, kenapa ia memilih Malaysia, tetap jadi tanda tanya. Malaysia dan Singapura, juga Thailand, berdekatan saja, dan sejumlah maskapai membuka rute langsung ke negara ini dari Jakarta. Kenapa harus ke Malaysia terlebih dahulu?

Bagi Anda yang tidak sekilas pintas mengikuti perkembangan sepakbola dan PSSI di hari-hari belakangan ini, katakanlah sejak era Nurdin Halid, tentu akan segera paham. Malaysia punya kedudukan yang khusus bagi Indonesia. Tentu saja bukan karena "perseteruan abadi". Itu cuma penampakan di lapangan. Sebab di luar lapangan, hubungan Indonesia dan Malaysia sungguh mesra. Dalam hal ini, hubungan antara para cukongnya, yakni para pengatur jalannya pertandingan, para pembalik prediksi: orang-orang yang membuat sepakbola tercerabut dari hakekatnya sebagai permainan yang berlandaskan pada sportivitas, pada kejujuran.

La Nyalla Mattaliti barangkali punya banyak "teman" di sana. Dan sebagaimana sikap "teman yang baik", tatkala ada "teman" yang sedang dilanda kesusahan, tentulah harus dibantu.

Sementara itu, teman-teman La Nyalla (ini kali memang tak perlu pakai tanda kutip) di PSSI, tetap dengan gagah berani menyebut bahwa kondisi terkini tetap tak mengubah pandangan mereka terhadap status La Nyalla. Yang bersangkutan tetap Ketua Umum PSSI.

Sebabnya, La Nyalla menjadi tersangka karena kasus yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola, berbeda dari kasus Sepp Blater, jadi tak perlu mundur. Juga tak perlu dimundurkan.

Bahwa ia sekarang tidak jelas entah berada di mana, dengan siapa dan sedang berbuat apa, juga tidak jadi soal. Sebab korupsi, sepanjang bukan berhubungan dengan sepakbola, lalu kabur ke luar negeri, senyata-nyatanya masih belum melanggar Statuta FIFA.

twiter: @aguskhaidir

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved