Barcelona vs Real Madrid
Menyisakan Drama Gengsi
Daya tarik El Clasico yang pernah surut. Bahkan ketika bintang-bintang di kedua kubu tengah meredup. Bahkan tatkala tidak ada bintang sama sekali.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
BERBEDA dibanding tahun-tahun sebelumnya, terutama sejak Josep Guardiola berada di Camp Nou dan Jose Mourinho menjadi bos di Bernabeau, pertarungan Barcelona dan Real Madrid edisi kali ini tidak berpengaruh besar pada gelar.
La Liga menyisakan delapan laga dan Barcelona berjarak 10 poin dari Real Madrid. Di antara mereka, terdapat klub kota Madrid yang lain, Atletico, yang tertinggal sembilan poin. Secara matematis, masih tersedia 24 poin. Secara matematis, Atletico, bahkan Real, masih bisa menyusul Barcelona.
Tapi sepakbola bukan matematika yang hakekatnya adalah keniscayaan. Di dalam sepakbola 1+1 tak selalu berarti dua. Bisa kurang, bisa juga lebih. Meski tidak pernah semengejutkan Liga Inggris, kompetisi La Liga bukanlah kompetisi yang mudah diprediksi. Kadang-kadang klub semenjana bisa jadi batu sandungan bagi para raksasa.
Maka begitulah. Dengan pertimbangan Real Madrid agak kurang mungkin menang terus- menerus dan di saat bersamaan Barcelona kalah secara beruntun, harapan untuk melihat penguasa tahta berganti di akhir musim, adalah sangat kecil. Nyaris mustahil.
Lalu, masih menarikkah duel yang akan digelar di Camp Nou, Minggu (3/4) dinihari (WIB) ini? Adakah lagi yang menjadi pertaruhan?
Tentu saja akan selalu ada yang menarik dari El Clasico, sebutan yang lebih sohor untuk laga Barcelona kontra Real Madrid. Di mana pun di panggungkan, di Camp Nou, di Santiago Bernabeau, atau di stadion-stadion lain, daya tarik El Clasico yang pernah surut. Bahkan ketika bintang-bintang di kedua kubu tengah meredup. Bahkan tatkala tidak ada bintang sama sekali.
Kenapa? Karena El Clasico adalah sekaligus pengejawantahan paling sahih terhadap apa yang selalu disebut sebagai drama kehidupan. Dan ini kali, drama itu adalah gengsi. Dalam hal ini lebih tepatnya, gengsi Real Madrid.
Barcelona sudah hampir pasti juara dan pada laga pertama musim ini di Bernabeau, 21 November 2015, Real Madrid dibantai empat gol tanpa balas. Luis Suarez melesakkan dua gol, ditambah andil Neymar dan Andreas Iniesta. Los Blancos --julukan Real Madrid-- tentu tak ingin dipermalukan dua kali. Terakhir kali, kekalahan beruntun seperti ini terjadi pada musim 2013- 2014. Saat itu, di Camp Nou, 26 Oktober 2013, Barcelona menang 2-1. Pada putaran kedua 23 Maret 2014, di Bernabeau, Barcelona unggul 4-3.
Musim itu pun berakhir dengan kegagalan di La Liga. Akan tetapi, gengsi Real Madrid masih terselamatkan karena di panggung yang lain, Copa Del Rey, mereka mampu menghempaskan Barcelona 2-1, antara lain lewat gol "sprint" yang sensasional dari Gareth Bale.
Cerita manis tersebut tak akan terulang musim ini. Kekonyolan Rafael Benitez yang memasang pemain "bermasalah" pada starting eleven di laga babak 32 besar kontra Cadiz, membuat Real Madrid didiskualifikasi. Padahal mereka sudah mengantongi kemenangan 3-1.
Satu-satunya potensi peluang Real Madrid untuk meraih tropi adalah Liga Champions, di mana mereka telah berada di fase delapan besar dan akan menghadapi VfL Wolfsburg.
Di atas kertas, Madrid unggul. Namun sekali lagi, sepakbola bukan permainan di atas kertas. Sepakbola bukan permainan yang 100 persen dapat dijalankan dengan hitung-hitungan. Wolfsburg tidak berpengalaman di kompetisi Eropa, tapi keberhasilan menembus fase demi fase hingga sampai ke perempatfinal, tentunya telah meningkatkan kepercayaan diri mereka berlipat-lipat.
Dengan kata lain, sesungguhnya, musim ini Real Madrid berpeluang kembali gigit jari. Dan itulah yang menjadi sebab kenapa laga kontra Barcelona menjadi teramat penting. Setidak- tidaknya, jika pun akhirnya memang benar-benar tak meraih gelar apapun, mereka tak kalah dua kali dari seteru abadi.
Hasil yang kemungkinan juga bisa memperbesar peluang Zinedine Zidane untuk dipertahankan di Bernabeau. Katakanlah gelar pada akhirnya memang gagal diraih. Tapi bagaimana pun Zidane mampu menunjukkan progres yang signifikan dari kemandekan yang dilakukan Benitez.
Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa besarkah peluang Real Madrid untuk mengalahkan, atau paling tidak mengimbangi, pasukan Luis Enrique yang sedang berada dalam performa paling mentereng? Adakah kemungkinan yang terjadi justru kebalikannya?
Kesalahan Benitez
April 2003, dalam satu momentum El Clasico di Camp Nou, pecah keributan massal. Penyebabnya adalah dua pemain sentral di kedua kubu. Pemain bernomor punggung lima dan nomor punggung 21, Zidane dan Enrique.
Permainan Enrique yang sangat agresif nyaris mencelakai Zidane, maestro pengatur irama permainan Madrid yang terkenal berdarah panas. Zidane mendatangi Enrique, meneriakinya, lalu meraup wajahnya. Enrique membalas dengan mendorong tubuh Zidane. Pemain-pemain lain berdatangan dan segera terlibat aksi saling dorong.
"Kami berdua profesional dan saya percaya, seperti juga saya, Zidane tidak akan menganggap insiden itu sebagai kenangan yang buruk di antara kami. Saya dulu menghormatinya sebagai pemain. Sekarang saya menghormatinya sebagai pelatih," kata Enrique seperti dikutip SBS.com.
"Zidane pemain jenius, dan sejauh ini, dia sudah menunjukkan sebagian dari kejeniusan itu sebagai pelatih. Madrid sekarang berbeda dengan Madrid yang kami hadapi beberapa bulan lalu. Saya kira ini akan jadi laga yang menarik," ujar Enrique menambahkan.
Enrique memang tidak mengatakannya secara langsung, namun sepertinya ia telah memperkirakan bahwa Real Madrid tidak akan mengulang kesalahan di Bernabeau. Kesalahan strategi Rafael Benitez yang membuat gawang Keylor Navas dihajar empat gol.
Benitez barangkali hendak menerapkan permainan menyerang yang agresif. Namun keputusannya menempatkan tiga gelandang stylish tanpa tukang angkut air, justru menjadi blunder yang berbuah petaka.
Toni Kross, Luka Modric, dan James Rodriguez memang membuat serangan Real Madrid lebih tajam. Modric dan Rodriquez mampu mengalirkan bola-bola untuk Cristiano Ronaldo, Bale, dan Karim Benzema.

Tapi serangan-serangan itu berhasil dihempang para penggawa lini belakang Barcelona. Mereka kemudian dengan cerdik merencanakan serangan balik. Serangan yang tidak terburu-buru, yang terkonsep rapi dan dirancang begitu cermat, memanfaatkan celah yang terbentuk antara Rodriguez, Modric, dan Kross. Celah di seputaran penalty arc, baik di sisi kiri maupun kanan. Lewat celah inilah, Sergio Busquets dan Ivan Rakitic berhasil mengirimkan umpan mematikan untuk Suarez dan Neymar.
Kesalahan kedua Benitez adalah menginstruksikan para pemainnya untuk melakukan pressing ketat dan agresif, namun sayangnya, tidak terpola jelas. Pendek kata, hanya agresif, namun kacau. Strategi ini hanya membingungkan pemain-pemain Barcelona di awal-awal laga. Selepas 15 menit, mereka melihat celah yang lain pula. Betapa pressing ini malah menciptakan ruang- ruang kosong dan satu dua pemain tak terkawal. Dan celakanya, yang sering lepas dari kawalan ini adalah Iniesta.
Lantas, apa yang akan dilakukan Zidane? Sejauh ini, ia tidak banyak bicara pada media. Namun Marca, memaparkan kemungkinan Zidane, untuk kali kesekian akan mengirim James Rodriguez ke bangku cadangan, dan mendorong Kross dan Modric sebagai duet yang akan berhadap- hadapan langsung dengan Rakitic dan Alda Turan.
Di belakang keduanya ditempatkan Casemiro, pemain yang sebenarnya belum menunjukkan kapasitas selevel Xabi Alonso, namun apa boleh buat, memang menjadi satu-satunya pemain yang mungkin dipilih untuk posisi itu.
"Kami akan mencoba memainkan sepakbola yang sederhana. Sepakbola yang tidak rumit. Barangkali kami akan mendapatkan peluang yang lebih baik dari kesederhanaan dan ketidakrumitan ini," kata Zidane.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/zidan-enrike_20160402_170617.jpg)