Ngopi Sore

Mengenang Fahri Hamzah yang Lucu

Kelucuan Fahri Hamzah terletak pada kehebatannya dalam penjungkirbalikan logika. Agak mirip Cak Lontong. Namun dalam bentuk yang jauh lebih sistematik

Mengenang Fahri Hamzah yang Lucu
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

SAAT mendengar kabar resmi perihal pemecatan Fahri Hamzah, dua hari lalu, saya bilang pada seorang kawan bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah melakukan kesalahan besar. Pemecatan Fahri Hamzah semakin menunjukkan betapa PKS memang tidak peka terhadap kepentingan rakyat.

Fahri Hamzah adalah wakil rakyat. Apakah selama menjabat ia benar-benar berdiri di barisan paling depan, pasang badan untuk membela rakyat? Tidak juga. Sebaliknya, Fahri Hamzah lebih sering membela kolega-koleganya di DPR. Terutama sekali Setya Novanto dan Fadli Zon, dua ujung tombak Koalisi Merah Putih, koalisi oposisi pemerintah.

Lantas kenapa PKS kau sebut tak peka? Kurang lebih begitu kawan saya bertanya. Saya jawab: di zaman serba susah seperti sekarang, rakyat butuh hiburan, butuh humor-humor yang bisa meledakkan tawa, dan PKS, justru mendepak orang yang bisa mewujudkan hal itu.

Fahri tentu saja bukan pelawak. Gaya bicaranya, tidak seperti Sule, Tessy, atau Cak Lontong, misalnya. Pun gestur tubuhnya. Sama sekali tidak lucu. Tapi lebih dari mereka, kelucuan Fahri Hamzah terletak pada kehebatannya dalam penjungkirbalikan logika. Agak mirip Cak Lontong, sebenarnya, namun dalam bentuk yang jauh lebih sistematik dan canggih.

"Tidak perlu tersinggung, tugas pejabat itu di antaranya dimaki-maki. Siapa lagi yang dimaki kalau bukan pejabat publik. Saya anggap penghinaan itu hiburan sebagai pejabat publik," ujarnya suatu kali, yang banyak dikutip media.

Lucu, bukan? Ini belum seberapa. Dalam keterangan perihal alasan pemecatan Fahri Hamzah yang dilansir PKS secara terbuka lewat laman resmi mereka, terungkap berbagai kelucuan lain.

Di antaranya pernyataan ini: "Bayangkan, dalam tradisi demokrasi anda harus memperkuat otak daripada dewan itu, karena orang dalam demokrasi itu tidak dipilih karena disukai oleh pimpinan negara atau ditunjuk oleh presiden, tapi dipilih oleh rakyatnya sendiri. Bukan karena dia cerdas, tapi rakyat suka dia, makanya kadang-kadang banyak orang juga datang ke DPR ini tidak cerdas, kadang-kadang mungkin kita bilang rada-rada bloon begitu."

Di masa kampanye Pemilu Presiden 2014, lewat akun Twitter miliknya, Fahri Hamzah menanggapi wacana Joko Widodo menetapkan Hari Santri berbarengan dengan Tahun Baru Islam dengan kalimat yang waktu itu memancing heboh luar biasa. Fahri menulis: "Jokowi janji 1 Muharam hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!"

Kelucuan yang paling banyak membuncahkan tawa adalah kelucuan-kelucuan yang dibuatnya saat melakukan pembelaan habis-habisan terhadap Setya Novanto, terkait dugaan kasus pencatutan nama Jokowi dan Jusuf Kalla menyangkut wacana perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

"Ada pemutarbalikan fakta terkait perpanjangan kontrak ini. PT Freeport Indonesia di Indonesia. Dari awal kami menjadi pimpinan DPR, justru Direktur Freeport itu yang ingin ketemu. Tapi saya nggak mau temui. Dan mereka terus mengejar-ngejar."

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved