Diduga Suap Anggota Ombudsman, Kepala SMAN 14: Kita Bukan Orang Barat
Kepala SMA Negeri 14 Medan, Sofyan Purba membantah pihaknya mencoba menyuap anggota Ombudsman RI Perwakilan Sumut saat meninjau pelaksanaan UN 2016
Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala SMA Negeri 14 Medan, Sofyan Purba membantah pihaknya mencoba menyuap anggota Ombudsman RI Perwakilan Sumut saat meninjau pelaksanaan Ujian Nasional di sekolahnya.
Seperti diketahui, saat meninjau UN di sekolah yang berada di Jalan Pelajar Timur tersebut, Ombudsman mendapati para peserta dan pengawas ujian bebas menggunakan ponsel. Pengawas tidak menegur siswa dan bahkan membaca koran saat sedang bertugas.
"Aneh rasanya. Tadi itu suasananya akrab. Suasana kekeluargaan. Makanya lucu. Kebetulan wakil kepala sekolah kami marga Ginting. Anggota Ombudsman tadi pun boru Ginting. Sama-sama Ginting. Namanya keluarga kan gitu. Bukan mau nyuap atau ngasih gratifikasi itu. Makanya kami pun heran," kata Sofyan, saat dikonfirmasi www.tribun-medan.com melalui ponsel, pukul 18.15 WIB, Rabu (6/4/2016).
Ditanya kenapa pengawas bisa sampai membaca koran saat mengawas, Sofyan menilai hal tersebut wajar.
"Pengawas itu orang namanya tiga hari ngawas duduk terus. Entah mungkin ada kertas di situ dibacanya lah pula. Tiga hari mereka duduk dari jam 7.30 sampai jam dua siang pulanya," katanya.
Sofyan tak habis pikir anggota Ombudsman bahwa tindakan mereka memberikan amplop kepada anggota Ombudsman bakal sampai ke telinga wartawan.
"Jadi macam manalah kira-kira itu ya. Apa mau tetap dilanjutkan (beritanya). Orang pers juganya kita. (Nama medianya) Sergap TKP. Tapi tahulah kita, kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali (terbit)," katanya.
Menurut Sofyan, pemberian amplop yang mereka lakukan hanya semata-mata karena mereka menganggap anggota Ombudsman sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Kekeluargaannya semua itu. Kalau penyuapan, kenapa gak ke kasus hukum. Ini, kan, dikembalikan. Kalau dikembalikan berarti, kan, kekeluargaan namanya. SMS-nya pun ada sama saya. 'Pak, amplop yang bapak berikan tadi, saya kembalikan sama satpam. Terima kasih atas penerimaan yang baik terhadap kami.' Terus saya balas, 'Kami minta maaf. Kami anggap setiap yang datang itu keluarga.' Jadi kan lucu kalau ini dibilang mau nyuap," katanya.
Lebih lanjut menurut Sofyan, budaya pemberian amplop adalah hal yang lumrah.
"Dan yang menyerahkan amplop itu tadi pun bukan saya, tapi wakil kepala sekolah. Pak Ginting. Namanya tamu datang, kan, biasa. Udah jauh datang. Kita, kan, bukan orang Barat kali. Macam inilah. Anda nelpon nomornya tidak ada namanya, tapi tetap saya angkat. Itulah namanya kita orang Timur," ujarnya mengakhiri.
(amr/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ombudsman_sumut_20160406_175851.jpg)