Ngopi Sore

Kenapa Dik Sonya Ngaku-ngaku Anak Jenderal

Apakah Dik Sonya berasal dari keluarga yang tak berbahagia, tak memiliki pendidikan yang bagus, dan lingkungan yang buruk? Ataukah sebaliknya?

Kenapa Dik Sonya Ngaku-ngaku Anak Jenderal
Instagram/@sonyadepari
Sonya Eka Depari sisiwi cantik yang mengaku anak jenderal bintang dua Irjen Arman Depari saat membentak polisi 

ADA banyak tindakan membahayakan yang potensial mendatangkan malapetaka: malu dan maut. Bahkan ada yang sekaligus kedua-duanya.

Satu di antara tindakan membahayakan ini adalah mengaku-ngaku. Mengaku Tuhan, mengaku rasul, mengaku pakar, mengaku pintar, dan lain sebagainya. Di Medan, kemarin, juga lantaran mengaku-ngaku, seorang remaja perempuan mendadak tenar ke seantero negeri.

Remaja perempuan ini, belakangan diketahui bernama Sonya, sesungguhnya tidak melakukan pengaku-akuan yang luar biasa. Dia tidak mengaku Tuhan.

Tidak pula mengaku rasul, nabi, wali, atau orang suci. Dia hanya melakukan pengakuan yang sangat biasa, pengakuan yang kerap dilakukan banyak orang dan bisa ditemukan dengan mudah di dekat-dekat kita saja. Dia mengaku kerabat orang penting.

Lihat video marah-marah Sonya kepada Polwan yang menilangnya:

"Kutandai ibu ya, ku tandai. Aku anaknya Arman Depari"Usai ujian nasional dan ugal-ugalan di jalan Sudirman Medan, siswi ini mengaku anak jenderal untuk lolos dari tilang polisi yakni Irjen Arman Depari. Seperti yang diketahui Arman Depari merupakan seorang perwira tinggi polri yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Pemberantasan BNN. Info: http://bit.ly/1TBFtPlKredit: Tribun Medan

Dikirim oleh tribun-medan.com pada 6 April 2016

Pertanyaannya, jika sudah sangat biasa, kenapa kehebohan tetap mencuat? Karena cara penyampaiannya. Pengaku-akuan, terkecuali mengaku Tuhan atau rasul atau orang suci atau sebangsanya, umumnya tidak dilakukan dengan jemawa. Sebaliknya dengan sopan dan bermanis-manis.

Jangan salah, sopan dan bermanis-manis di sini representasinya bukan merendahkan diri. Melainkan agar pesan yang hendak disampaikan jadi lebih menohok.

Atau supaya dapat diterima dengan hati lapang oleh pihak yang dimaksudkan untuk mendapatkan pemberitahuan. Sebab, memang, apabila tidak hati-hati, pengaku-akuan sebagai kerabat penting, bisa jadi bumerang, dan inilah yang terjadi pada adik kita Sonya.

Terlebih-lebih ia juga tidak awas terhadap "syarat" kedua: situasi dan kondisi. Tidak dalam sembarang situasi pengakuan bisa dikedepankan.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved