Benteng Kerajaan Aru di Delitua, Tembok Pertahanan dari Serangan Kerajaan Aceh
Ichwan Azhari, sejawaran, menuturkan benteng yang tersisa 30 persen lagi, bisa dilihat di bagian utara dan selatan dari kawasan 90 hektare ini.
Laporan wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Benteng Putri Hijau di kawasan Perumahan Putri Deli Namorambe, Delitua, Sumatera Utara sekilas seperti gundukan atau bukit alami pada umumnya yang berada di kawasan hutan atau lahan kosong.
Tapi penelitian puluhan tahun yang terus menerus dilakukan para peneliti asing dan lokal telah membuktikan keberadaan benteng tanah berusia ratusan tahun yang didirikan pada masa Kerajaan Aru yang dibuat untuk membentengi kerajaan dari serangan Aceh.
Sejak aktifnya mahasiswa Sejarah melakukan praktik ke lokasi tersebut, pengunjung dari kalangan pelajar dan mahasiswa dan komunitas cagar budaya berbondong-bondong ke sana dan menjadi wisata sejarah.
Ichwan Azhari, sejawaran, menuturkan benteng yang tersisa 30 persen lagi, bisa dilihat di bagian utara dan selatan dari kawasan 90 hektare ini.
"Kerajaan Aru diserang oleh Aceh pada 1539 dan pada 1615. Sejak itu nama kerajaan Aru menghilang. Tapi bukti peninggalan keberadaan adanya Kerajaan Aru dapat dilihat dari penimbunan sisa keramik china yang berusia ratusan tahun, emas dan dirham alat tukar pada mas tersebut," katanya.
Menurutnya, dua bagian di utara dan bagian selatan pernah dibuatkan petanya pada 1977 oleh John Miksic, peneliti asal Amerika yang menjadi peneliti pertama situs ini.
"Dalam penelitiannya, pemukiman yang dikelilingi benteng tanah dan parit dibuat sebagai pertahanan. Benteng tanah dibuat juga untuk melihat kedatangan musuh dari atas. Di sana banyak ditemukan pecahan keramik impor batuan di abad 12 hingga 15 an, bukti adanya hubungan perdagangan barang keramik dengan luar negeri seperti Tiongkok dan Vietnam pada masa itu," katanya.
Benteng Putri Hijau menjadi satu-satunya benteng tanah yang berusia ratusan tahun yang masih bisa dilihat keberadaannya.
Disinggung nama benteng yang tidak menyinggung nama Kerajaan Aru, Ichwan Azhari menuturkan faktor kebiasaan masyarakat yang lebih dekat dengan keberadaan pemandian Putri Hijau, membuat kawasan tersebut dinamai Jalan Putri Hijau. Maka benteng dan hal lainnya juga disebutkan belakangnya dengan tambahan Putri Hijau, walaupun sebenarnya nama asli seharusnya Benteng Kerajaan Aru.

Nanda, mahasiswa Unimed yang sedang praktik wisata ke Benteng Putri Hijau, menuturkan mengikuti kegiatan praktik mata kuliah Sejarah untuk melihat langsung Benteng Putri Hijau.
"Sekilas memang Benteng Putri Hijau tidak seperti benteng pada umumnya, tapi keberadaannya dilihat dari beberapa sudut memang tampak hasil buatan manusia, yakni rapi bentuk dan tingginya. Hanya karena ditumbuhi banyak tumbuhan semak belukar dan dimanfaatkan sebagai ladang, bentuk aslinya sudah tidak tampak lagi," katanya.
Untuk mencapai situs ini dari Kota Medan hanya membutuhkan waktu 30 menit. Bisa Dari Titi Kuning/Asrama Haji arah Namorambe masuk dari perumnas Putri Deli atau dari Pekan Delitua turun arah Pancur Gading, kemudian naik lewat jembatan menuju Perumnas Putri Deli. Nah di perumahan itu ada Galeri Benteng Putri Hijau. (sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/benteng_puteri_hijau_20160412_151948.jpg)