Ngopi Sore

Bir Pak Ahok

Apakah akhlak dan moralitas seseorang dapat diukur lewat sekaleng atau sebotol bir? Apakah penegak bir sudah pasti berakhlak buruk dan tidak bermoral?

Bir Pak Ahok
TWITTER

SECARIK foto beredar di internet, dan --tentu saja-- langsung jadi topik percakapan yang riuh. Setidaknya lantaran dua perkara.

Pertama, tampak kurang lebih tujuh kaleng bir di dalam foto itu. Kedua, ada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur Jakarta. Di dalam foto itu, Ahok dikelilingi oleh orang-orang, yang beberapa di antaranya dari suku Tionghoa.

Iya, bir, Ahok, Jakarta, dan Tionghoa. Komplet sudah. Ini kombinasi yang sungguh-sungguh ciamik untuk diracik menjadi isu sedap. Jauh lebih ciamik dibandingkan kombinasi hasil racikan Claudio Ranieri yang membuat Leicester City membikin gunjang-ganjing sepakbola Inggris yang gemerlapan.

Sekali lagi, bir, Ahok, Jakarta, dan Tionghoa. Maka ketika terungkap pula bahwa foto itu diambil dalam acara jamuan makan malam yang dilakukan Ahok bagi para pegiat media sosial, keriuhan percakapan semakin menjadi-jadi, melesat kian kemari.

Mulai dari perkara akhlak, moralitas, dikotomi pribumi-nonpribumi, hingga politik internet: Ahok dan para buzzer-nya yang militan makin serius menyusun kekuatan untuk menghempang lawan-lawannya di Pilkada Jakarta.

Lalu, seperti yang juga sudah sering terjadi, muncul foto kontranya. Disebarluaskan lewat Facebook, beredar foto sejumlah orang yang diduga politisi Partai Demokrat. Sebagian duduk sebagian berdiri, dan di atas meja, teronggok tiga botol bir dan empat gelas, yang kelihatan tinggal berisi separuh.

Bir Pak Ahok adalah Anker dan San Miguel. Satu bir lokal, yang operasional pabrik dan manajerialnya dikelola Pemerintah Kota Jakarta, sedangkan bir lainnya barang impor dari Filipina. Adapun bir yang dipotret bersama orang-orang yang diduga politisi Partai Demokrat adalah Heineken, bir Belanda.

Saya, tentu saja, tidak akan membahas soal Anker, San Miguel, dan Heineken. Tidak akan menelaah mana di antara satu yang lebih berkualitas, lebih memabukkan, dan lebih haram. Karena itu hanya akan menghadirkan debat yang panjang tak berkesudahan, dan pastinya, memang tiada gunanya sama sekali.

Saya juga tidak akan bicara perihal siapa yang menyebarkan foto-foto itu. Tidak foto pertama, tidak pula foto kedua. Di era media sosial, serangan yang balas berbalas semacam ini sudah sangat sering terjadi dan sikap terbaik yang bisa dilakukan adalah menganggapnya sekadar sebagai lelucon yang menghibur.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved