Ngopi Sore

Kartini Masih Saja Pakai Kebaya

Kartini memapar pemikiran-pemikiran yang tidak lazim bagi perempuan pada zamannya.

Kartini Masih Saja Pakai Kebaya
INTERNET

HARI ini 137 tahun lalu, di Jepara, Raden Ajeng Kartini dilahirkan. Sampai ia meninggal di tahun 1904, nama Kartini sesungguhnya belum dikenal luas. Hanya di Jepara, tanah kelahirannya, serta di Rembang, tempatnya berdomisili usai menikah (setelah menuruti perjodohan orang tua) dengan bupati daerah ini, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Nama Kartini baru melejit setelah korespondensinya dengan sejumlah "sahabat pena" di luar negeri (umumnya dari negeri Belanda), ditunjukkan ke publik dan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Door Duisternis Tot Lichht.

Pelan-pelan orang mulai jatuh kagum. Bagaimana Kartini yang hanya berpendidikan rendah itu bisa menulis dalam Bahasa Belanda sedemikian bagusnya?

Dan tatkala kemudian terungkap pula bahwa kemampuan ini diperolehnya secara otodidak, yakni dari koran terbitan Semarang, De Locomotief, serta majalah De Hollandsche Lelie, yang disimpan lalu dibacanya diam-diam, kekaguman itu semakin besar.

Tapi sesungguhnya hal yang membuat kekaguman itu terus terpantik adalah bagaimana dalam buku yang kelak diterjemahkan Armijn Pane dan terbitkan kembali dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang ini, Kartini memapar pemikiran-pemikiran yang tidak lazim bagi perempuan pada zamannya.

Antara lain adalah perlawanan terhadap feodalisme kolonial. Kartini menyebutnya sebagai satu bentuk pelecehan terhadap hak hidup manusia, yang dalam hal ini ia generalisasikan sebagai manusia (khususnya perempuan) Jawa.

Kartini menukik tajam pada apa yang sekarang disebut diskriminasi. Dalam korespondensinya dengan Estelle H. Zeehandelaar, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat di Belanda (surat ini bertanggal 12 Januari 1900), ia mengatakan bahwa meskipun orang-orang Jawa, dalam hal ini pejabat pemerintah Hindia Belanda maupun kaum bangsawan, diterima dalam pergaulan kelas atas pada masa itu, tetaplah saja ada dinding pemisah.

"Dengan cara yang halus sekali mereka membuat kami merasakannya. "Saya orang Eropa, kamu Jawa. Atau, " kami memerintah, kamu saya perintah..." Oh, sekarang saya jadi lebih paham kenapa banyak yang tidak menginginkan kemajuan orang Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, mereka tidak akan lagi mengiyakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya."

Kalimat-kalimat ini, tak pelak, adalah bentuk perlawanan yang keras. Jauh sebelum Tjokroaminoto, sebelum DR Soetomo mendirikan Boedi Oetomo, Kartini sudah sampai lebih dahulu sampai pada pemikiran bahwa perlawanan terhadap kolonialisme dengan menggunakan kata-kata, dengan ide dan pemikiran, jauh lebih efektif ketimbang perlawanan menggunakan senjata. Pena dan diplomasi lebih menohok dibanding pertempuran yang menggaransi pertumpahan darah.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved