Hardiknas Berdarah di Medan
Percakapan Terakhir Nurain Lubis Sebelum Dibunuh dengan Koleganya
Farid Wajdi anggota Komisi Yudisial RI mengenang kepergian sosok dosen Nur'ain Lubis yang tewas secara teragis usai dibunuh oleh mahasiswanya
TRIBUN-MEDAN.com - Farid Wajdi anggota Komisi Yudisial RI mengenang kepergian sosok dosen Nurain Lubis yang tewas secara teragis usai dibunuh oleh mahasiswanya sendiri di kampus Universitas Muhammadiah Sumatera Utara (UMSU), Senin (2/5/2016) semalam.
Mantan dekan FKIP UMSU itu tewas secara mengenaskan usai digorok oleh pelaku Rormardo Sah Siregar yang juga merupakan mahasiswanya yang masih duduk di smester 6.
Pembunuhan itu ditenggarai karena dendam, karena korban kerap menegur pelaku di dalam kelas.
Farid Wajdi yang merupakan koleganya saat aktif sebagai dosen di UMSU punya kenangan tersendiri terhadap Nur'ain yang kerap dipanggil mahasiswanya dengan sebutan Bunda.
Dia menyebut Nurain sebagai sosok yang peduli, ramah, familiar, baik dan mengayomi sebagai seorang kakak.
Kedekatan Farid Wajdi ditugankan dalam sebuah tulisan seperti yang dikutip dalam akun Facebooknya:
In memorium #Kakanda Dra. Hj. Nur'ain Lubis, MAP (mantan Dekan FKIP UMSU 2 Periode (2004-2009, 2009-2013).
Sepenggal kisah kecil.
Pertama sekali, Innalillahi wa innailahi roji'un.
Suatu waktu disekitar bulan Oktober 2013. Telp saya berbunyi, dan itu ternyata dari almarhumah. Saya angkat dan saya mendahului ucapkan salam. (Almarhumah memanggil saya dgn sebut adek kakak. Mhs memanggil beliau dgn Bunda).
Menurut ceritanya, almarhumah naik taksi dari rumahnya menuju kampus UMSU dan baru saja turun.
Setelah basa basi, menanyakan soal kesehatan dan aktivitas terkini, beliau kemudian menyampaikan titip salam dari sopir taksi. Saya merasa terkejut dan bertanya, apakah sopir taksi tsb famili saya atau kenalan saya.
Almarhumah bilang tidak, bahkan sama sekali tidak kenal dgn adek.
Saya tanya: Loh, jadi, kok kirim salam ke saya? Apa gak salah orang?
Lalu, almarhumah cerita, ternyata di taksi baru saja diputar wawancara saya soal pelayanan publik by phone dgn salah satu stasiun radio di Medan.
Beliau melanjutkan cerita, si sopir taksi pengagum adik. Katanya (almh) sopir taksi senang dgn kepedulian adik soal pelayanan publik.
Almarhumah coba tanya ke sopir taksi, apa bapak kenal org yg bicara di radio tadi? Dijawab si sopir, oh,,,gak. Saya gak kenal. Cuma saya sering dengar suaranya.
Kata almarhumah, jadi, kagum bukan karena kenal? Almarhumah melanjutkan pembicaraan, Ooo,,,, yg bicara diradio barusan, itu adik saya dosen Fakultas Hukum UMSU.
Sopir taksi kemudian, kata almarhum minta agar almarhumah menyampaikan kirim salam ke saya.
Catatan penting, bagi saya, almarhumah org yg peduli, familiar, baik, ramah dan mengayomi sbg seorang kakak. Lebih lagi, almarhumah sosok yg suka memberi apresiasi dan motivasi kpd orang lain.
Peduli kpd karier saya, krn pada waktu itu, saya akan segera melepaskan jabatan sbg pimpinan di Fakultas Hukum UMSU.
Kalau tidak salah, itu adalah percakapan terakhir saya dgn almarhumah. Setelah itu, jika pun jumpa, hanya sekadar papasan tanpa percakapan lagi.
Tetiba saya dapat telp yg mengabarkan almarhumah telah tiada, wafat, berpulang kerahmatullah. Jantung saya berdegup kencang. Ingatan saya kembali menari-nari tentang sosok beliau sbg kakak dgn sifat keibuannya.
Sekarang almarhumah, telah kembali kepangkuan Sang Khalik. Tragis memang. Tetapi tentu Allah Swt lebih menyayangi almarhumah.
Selamat jalan Kakanda. Semoga Allah Swt mengampuni semua khilaf yg ada. Keluarga yg ditinggalkan sabar tawakal. Mohon maaf terdalam jika ada kesalahan yg terselip.
#note in memorium ini hanya sepenggal kisah betapa beliau peduli dgn orang lain. Tentu masih banyak kisah indah lain yg belum terungkap. Semoga bermanfaat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/nurain-lubis-dosen-umsu-yang-dibunuh-mahasiswanya-sendiri_20160503_163957.jpg)