Ngopi Sore

Pencabutan Sanksi, Kongres FIFA, dan Jose Mourinho: Episode Baru Drama PSSI

Liga Indonesia yang terhenti semestinya bisa diputar kembali. Lantas bagaimana nasib Indonesia Soccer Championship (ISC) A dan B?

Pencabutan Sanksi, Kongres FIFA, dan Jose Mourinho: Episode Baru Drama PSSI
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

SAYA tidak pernah menonton Uttaran atau Elif atau drama India dan Turki lain, tapi saya pernah menonton Maria Mercedes dan Rosalinda, melulu karena di mata saya waktu itu, bintangnya yang bernama Thalia sungguh sangatlah aduhainya.

Meski tidak pernah menonton, namun dari cerita sejumlah tetangga dan kawan-kawan di kantor yang pernah (dan masih) menontonnya, saya bisa menyimpulkan bahwa secara garis besar drama India dan Turki tidak berbeda dari drama Meksiko: panjang dan berbelit-belit, susah habis karena licin dan berbusa, seperti sabun.

Sepakbola, kita tahu, ditakdirkan untuk tidak memiliki hubungan konkret dengan opera sabun. Meski Meksiko, dan Spanyol, merupakan negara-negara yang akrab dengan sepakbola, sangat jarang ada produksi drama mereka yang menjadikan sepakbola sebagai tema besar cerita.

Jika pun ada, hubungannya istimewa, dan biasanya terjadi di luar layar. Misalnya, bintang opera sabun yang menjalin hubungan asmara dengan pesepakbola.

Namun di Indonesia, takdir ini agaknya telah terjungkirbalikkan dengan sadis. Tak tanggung- tanggung, sepakbola di Indonesia adalah drama itu sendiri. Drama tak kunjung selesai. Lepas satu episode dengan sekian persoalan (bahkan sebelum benar-benar selesai), muncul episode baru dengan persoalan-persoalan yang lain, yang entah pelik atau entah sepele belaka, tetap dikemas sedemikian rupa agar terkesan rumit, ruwet, kusut, dan memusingkan.

Pascagunjang-ganjing pembekuan oleh pemerintah (dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga), yang membuat sepakbola di negeri ini mati suri selama satu tahun penuh, episode baru sekarang disuguhkan. Sanksi pembekuan dicabut!
Bukankah ini kabar baik? Tentu, persis seperti kabar pernikahan Maria Mercedes dan Jorge Luis del Olmo. Kabar baik yang menyimpan potensi kabar buruk di hari kemudian. Terlalu pesimistis?

Terus terang saya berharap demikian. Saya memang berharap saya terlalu pesimistis. Saya berharap kabar baik ini benar-benar merupakan kabar baik. Bukan kabar buruk yang menyaru kabar baik, atau kabar baik yang absurd, seperti kabar kematian Haji Sulam saat membuka cabang warung bubur di tanah suci dan seluruh keluarga yang ditinggalkan di Indonesia bergembira lantaran yakin beliaunya mendapatkan garansi masuk sorga --dan hal ini membuat cerita bisa dilanjutkan dengan persoalan-persoalan yang lain.

Tapi apa boleh buat. Kecurigaan terlalu besar. Pencabutan sanksi PSSI oleh pemerintah seyogianya adalah representasi perdamaian. Artinya, tatkala sampai pada titik ini, kedua belah pihak sudah sepakat untuk menyamakan persepsi dan tujuan. Tidak ada lagi yang berjalan ke arah berlainan. Tak ada lagi permusuhan. PSSI menerima syarat pemerintah, sebaliknya, pemerintah juga mengakomodir usulan-usulan PSSI.

Apakah langkah ini merujuk pada situasi tersebut? Besar kemungkinan tidak. Besar kemungkinan, pencabutan sanksi tiada lebih dari sekadar jalan tengah. Keputusan kompromistis jangka pendek. Yakni menyelamatkan Indonesia dari sanksi pembekuan internasional yang lebih panjang. FIFA akan menggelar kongres di Zurich pada 13 Mei 2016.

"Tentu saja logika berpikirnya adalah sanksi FIFA tidak mungkin dicabut kalau pembekuan pemerintah kepada PSSI belum dicabut. Jadi FIFA akan mengadakan kongres dan kita berharap sanksi atas Indonesia segera dicabut," kata Gatot S Dewa Broto, Deputi Peningkatan Prestasi Olah Raga Kemenpora, seperti dimuat sejumlah media dalam jaringan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved