Catatan Sepakbola

Mourinho: Kebangkitan Manchester United dan Bisnis Sepakbola

Berbagai silang pendapat perihal Mourinho, apakah dia orang yang tepat untuk membawa klub ini kembali ke era kejayaan, terus mengemuka.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Mirror.co.uk
Jose Mourinho 

T AGUS KHAIDIR
Wartawan Tribun Medan

SPEKULASI berpekan-pekan berkesudahan pada pembenaran rumor. Jose Mourinho akhirnya benar-benar menjadi bos di Old Trafford, mengambilalih kepemimpinan bekas mentornya saat masih "belajar" jadi pelatih di FC Barcelona, Louis van Gaal.

Sampai sesaat sebelum Mourinho bertemu petinggi-petinggi manajemen Manchester United untuk menandatangani kontrak, berbagai silang pendapat perihal Mourinho, apakah dia orang yang tepat untuk membawa klub ini kembali ke era kejayaan, terus mengemuka. Tak terkecuali dari para mantan penggawa Manchester United.

Pendapat terbelah. Satu kubu, dimotori Eric Cantona, menyebut Mourinho bukan sosok yang tepat bagi Manchester United.
"Saya sangat menyukai Mourinho. Dia pelatih yang hebat dan salah satu favorit saya. Tapi karakter sepakbolanya tidak cocok dengan klub ini. Jika dia di sini, maka dia akan mengubah karakter itu," katanya pada Guardian.

Paul Scholes bertolakbelakang dengan Cantona. Menurut Scholes, Mourinho justru membawa angin segar. Karakter Mourinho akan menguatkan karakter Manchester United.

"Jika Anda menonton video-video pertandingan klub-klub yang pernah dilatih Mourinho, maka Anda akan melihat adanya kesamaan dengan gaya United. Terutama saat klub ini berada di bawah kendali Sir Alex Ferguson. Belum ada kepastian, tentu saja. Namun dari semua pelatih yang saat ini mungkin bersama United, saya kira, Mourinho menjadi jawaban yang paling tepat," sebutnya dalam wawancara dengan Daily Mail.

Sepakbola Mourinho adalah sepakbola pragmatis. Dia nyaris tidak pernah peduli pada keindahan sepakbola. Tiada yang lebih penting baginya selain kemenangan. Bahkan apabila ternyata kemenangan itu mesti diraih dengan cara-cara yang "kotor", tak sedikitpun ia ragu untuk mengambilnya.

Pragmatisme inilah pula yang membuat seluruh klub yang pernah dibesut Mourinho jarang sekali unggul dalam penguasaan bola. Terutama ketika bertemu dengan klub-klub yang memainkan sepakbola kolektif dan indah semacam Barcelona atau Bayern Muenchen.

Namun ketertinggalan dalam penguasaan bola selalu bisa ditebus Mourinho lewat efektivitas yang canggih: rapi, cepat, sekaligus mematikan.

Saat membesut Real Madrid, bermodalkan pemain-pemain berkecepatan tinggi seperti Mesut Ozil, Angel DiMaria, Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, dan Gonzalo Higuain, gol-gol menakjubkan kerap terjadi.

Pula begitu di musim pertama era keduanya di Chelsea. Dibanding Real Madrid, materi Chelsea memang tak memungkinkannya untuk meracik strategi permainan super cepat. Tapi dengan poros John Terry, Nemanja Matic, Eden Hazard, Willian, dan Diego Costa, ia membentuk formasi solid dengan pertahanan kuat dan serangan balik tajam sebagaimana pernah dibangunnya di FC Porto, Inter Milan, dan Chelsea di era yang pertama.

Pertanyaannya, akan seperti apakah Manchester United di tangan Mourinho? Menilik pada materi yang dimiliki Manchester United dan rumor-rumor perihal transfer pemain yang beredar bersamaan dengan rumor kedatangan Mourinho ke Old Trafford, sejauh ini Rafael Varane, Matic, dan Zlatan Ibrahimovic, kemungkinan ia akan membangun skuat dengan karakter menyerang seperti Real Madrid dan karakter bertahan Inter Milan.

Apakah Manchester United akan bisa segera bangkit? Mungkin tidak. Mungkin dia butuh waktu, satu atau dua musim. Jika demikian, bukankah ia sama saja dengan Van Gaal?

Tidak, Mourinho berbeda. Dia punya nilai jual dan ini sangat penting bagi bisnis dan industri sepakbola.
Kedatangan Josep Guardiola, keberadaan Juergen Klopp serta masih bertahannya Arsene Wenger di Arsenal, membuat sosok Mourinho jadi dibutuhkan.

Dia tak boleh pergi dari Inggris. Dia adalah jualan baru yang pasti laris. Mourinho di United, Guardiola di City, Klopp di Liverpool, Wenger di Arsenal. Inilah satu-satunya komposisi persaingan yang bisa dikedepankan untuk menyaingi jualan andalan Liga Spanyol: Luis Enrique-Zinedine Zidane-Diego Simeone, dengan ditopang persaingan "abadi" Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Sekiranya ada di antara unsur-unsur ini yang pergi, apalagi jika rumor Messi pindah ke City dan Ronaldo terbang ke Paris Saint Germain atau balik ke Manchester United, tak pelak, hagemoni Liga Spanyol yang tidak tergoyahkan selama satu dekade terakhir akan runtuh.(*)

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved