Cegah Insiden Berdarah UMSU, Perguruan Tinggi Harus Maksimalkan Pembimbing Akademik

Pihak kampus baik perguruan tinggi negeri maupun swasta diharapkan untuk memaksimalkan dosen pembimbing akademik

Cegah Insiden Berdarah UMSU, Perguruan Tinggi Harus Maksimalkan Pembimbing Akademik
umsu.ac.id
Nurain Lubis dosen UMSU yang dibunuh mahasiswanya sendiri 

TRIBUN-MEDAN.com - Pihak kampus baik perguruan tinggi negeri maupun swasta diharapkan untuk memaksimalkan dosen pembimbing akademik untuk mengantisipasi insiden berdarah tragedi UMSU terulang kembali.

Hal ini diutarakan Mardana Nainggolan seorang pemerhati pendidikan yang juga sebagai pengajar di perguruan tinggi swasta di kota Medan, Kamis (2/6/2015).

"Selama ini dosen pembimbing akademik baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta hanya sebatas tanda tangan kartu rencana studi (KRS), jarang sekali bisa memberikan bimbingan atau arahan kepada mahasiswanya secara maksimal," katanya.

Menurutnya jarang sekali dosen pembimbing melakukan pendekatan kepada mahasiswanya apakah itu melakukan pertemuan untuk melakukan diskusi antara dosen dengan mahasiswanya.

Pernyataan Mardana ini merujuk dengan tindakan keji yang dilakukan Roymardo, mahasiswa UMSU kepada dosennya sendiri Nur'ain Lubis yang berujung dengan peristiwa pembunuhan.


Mardana Nainggolan

Diduga motif sementara pembunuhan itu dikarenakan dendam.

"Harusnya dosennya melakukan pertemuan rutin antara satu atau dua bulan sekali," ujar Mardana. Ini dilakukan agar dosen tahu persis perkembangan mahasiswanya.

Mardana yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (IKAHMI) Universitas Negeri Medan ini pendekatan agar kejadian serupa tidak terjadi.

"Harus ada di setiap jurusan bimbingan konseling kepada mahasiswa. Tidak semua mahasiswa yang masuk PTN atau PTS memiliki jalur sesuai apa yang diharapkan pihak kampus dalam proses belajar mengajar," tambahnya.

Misalnya jika terdapat mahasiswa yang dianggap tidak sesuai dengan target prestasi studinya, disarankan untuk menemui pelaksana bimbingan dan konseling. 

Selanjutnya mahasiswa katanya, diharapkan mahasiswa bisa menjalani tes psikologi. Tujuannya adalah untuk melihat kejiwaan mahasiswa itu sendiri, sehingga nantinya bisa mengantisipasi hal-hal yang membuat perkembangan jiwanya labil.

"Ini bisa dilakukan kalau perguruan tinggi bisa melakukan psikotes ini," ujarnya.

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved