Ngopi Sore

Cendekiawan yang Takut pada Video Porno

Ada orang yang karena sesuatu dan lain hal merasa jeri pada pornografi. Bahkan ada yang phobia.

Cendekiawan yang Takut pada Video Porno
GOOGLE

"...ekspresi wajah si aktris selama persetubuhan, misalnya, mengikuti empat aturan ekspresi: (1) cuek, dengan tampang bosan memandang kosong ke depan, mengunyah permen karet, menguap...; (2) instrumental, seolah subyek sedang berada di tengah pekerjaan berat yang menuntut konsentrasi tinggi: mata menatap tajam, ke area di mana 'sesuatu' sedang berlangsung, mulut yang mengatup menandakan upaya untuk berkonsentrasi...; (3) tatapan provokatif ke arah mata pasangan, yang pesannya selalu mirip: 'Ayo lagi, apa cuma segini kemampuanmu?'; dan (4) klimaks ekstatis dengan mata setengah tertutup."

Apa boleh buat, satu peristiwa memprihatinkan yang lantaran sungguh sangat gawat tingkat keseriusannya hingga jatuh jadi menggelikan, membuat saya kembali teringat --dan karenanya membaca ulang-- The Sublime to the Ridiculous: The Sexual Act in Cinema.

Ditulis Slavoj Zizek, lelaki setengah tua dari Slovenia, yang oleh kalangan ilmuwan "serius" disebut (dengan setengah mengejek) sebagai filsuf modern kontemporer.

Tiada satu perkara pun di dunia yang tidak bisa "diteorikan" oleh Zizek. Tak terkecuali seksualitas dalam pelaksanaannya yang paling purba: persenggamaan, termasuk yang dipertontonkan. Dan Zizek, mampu menghubung-hubungkan persenggamaan itu dengan bermacam teori, mulai dari Hegelian, Lacanian, Marxisme, hingga agama dan moralitas. Tesisnya: semua orang memiliki potensi menyimpang. Bahkan semakin (terlihat dan terkesan) lurus dan moralis seseorang, atau sekelompok orang, niscaya semakin menyimpang alam bawah sadarnya.

Saya teringat pada Zizek dan membaca ulang (sebenarnya beberapa bagian saja dari) bukunya itu, pascamendapati satu berita yang menyebut bahwa ICMI meminta pemerintah memblokir Google dan Youtube. Mereka menilai kedua situs ini tidak benar-benar dapat menutup akses terhadap konten-konten pornografi.

ICMI merupakan akronim Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Ada kata 'Cendekiawan' di sana. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'Cendekiawan' bermakna, (1) orang cerdik pandai; orang intelek; (2) orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu.

Sungguh satu gambaran menggetarkan. Bayangkan, 'orang cerdik pandai, intelek, dan terus-menerus meningkatkan pemahaman berpikir', sungguh luar biasa. Orang-orang seperti ini tentulah sudah sampai pada derajat yang sangat tinggi, yang lantaran begitu cerdik dan pandai dan intelek dan terus-menerus meningkatkan pemahaman berpikir, menjadi lebih arif dan lebih bijak. Orang-orang yang menjadi tempat bertanya, orang-orang yang mampu memecah kebuntuan masalah. Orang-orang yang --sudah barang tentu-- terjauhkan dari segala sesuatu yang bisa dipersangkakan sebagai kebodohan.

Tapi simaklah kalimat ini. "Situs ini telah secara bebas untuk menebarkan konten-konten pornografi dan kekerasan tanpa kontrol sedikit pun. Google dan Youtube telah memberikan dampak negatif bagi Indonesia, jika mereka tidak dapat mengontrol situs-situs yang mereka unggah untuk masyarakat."

Kalimat datang dari Jafar Hafsah dan saya pada awalnya tak percaya. Betapa tidak. Di ICMI, beliau memegang tampuk jabatan Sekretaris Jenderal. Jabatan yang tentunya tidak main-main. Di antara sekumpulan orang cerdik pandai, orang intelek, orang-orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu, beliau adalah sekretaris jenderalnya, "orang keduanya", sehingga pastilah tingkat kecendekiaan beliau sudah tak lagi berada pada level rata-rata.

Sebagai cendekiawan muslim, tentu, saya tak membayangkan beliau seperti Slavoj Zizek. Seorang cendekiawan muslim, sekiranyapun harus memapar teori perihal tubuh dan seks, tentulah bisa melakukannya dengan pendekatan yang tidak nyerempet-nyerempet cabul. Sebagai seorang sekretaris jenderal, saya yakin beliau bisa.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved