Lemang Panas Khas Warisan Leluhur Laris Manis saat Ramadan

Lemang, pulut yang direndam adonan santan lalu dibakar di dalam batang bambu sudah tak asing bagi warga Medan.

Lemang Panas Khas Warisan Leluhur Laris Manis saat Ramadan
Hidayat Tanjung pedagang lemang di Jalan Setia Budi 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Lemang, pulut yang direndam adonan santan lalu dibakar di dalam batang bambu sudah tak asing bagi warga Medan. Lemang bahkan tak sulit untuk ditemui di jalanan Kota Medan.

Apalagi selama Ramadan banyak pecinta kuliner yang memburu makanan khas Mandailing, Karo dan Padang ini.

Di saat Ramadan lemang bahkan jadi menu pilihan bersantap berbuka puasa.

Hidayat Tanjung (36), seorang penjual lemang di Jalan Setia Budi mengatakan Lemang Panas yang dijualnya merupakan khas turun temurun dari neneknya.

Ia bilang pendapatannya meningkat di saat Ramadan.

"Lemang Panas khas leluhur saya tambah laris saat Ramadan. Biasanya sehari terjual 25 batang, tapi kalau Ramadan per harinya bisa 80 batang sampai 100 batang," katanya di Jalan Setia Budi, Minggu (12/6/2016)

Hidayat Tanjung (36) warga kelahiran Medan Binjai Diski Km 15,5 ini mengatakan lemang khas leluhurnya bisa membuatnya menghidupi istri dan tiga anaknya. Ia menerima resep lemang khas Mandailing dari Ayahnya juga diwarisi dari Neneknya.

"Ini kan usaha leluhur, saya kan orangmg Mandailing. Dari nenek ke ayah. Lemang ini khas Sumatera Utara. Kalau secara suku bisa Mandailing, Karo bisa, Padang bisa," katanya

"Tidak hanya cuma di Ramadan aja. Saya tiap hari julan lemang. Selama Ramadan alhamdulillah penjualan meningkat. Setiap batangnya saya jual 25 ribu," imbuhnya

(cr3/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved