Ngopi Sore

Puasa Puasamu Sendiri Kok Maksa Orang Lain Menghormati

Semakin sering terjadi tindakan intoleran yang dilakukan atas nama toleransi. Hormatilah orang-orang yang sedang berpuasa!

Puasa Puasamu Sendiri Kok Maksa Orang Lain Menghormati
INTERNET

KIRA-kira 25 tahun lalu, kurang lebih setengah jam sebelum berbuka, saya melakukan kebiasaan baru yang tumbuh lantaran ikut-ikutan ibu saya. Mendengarkan rekaman ceramah Kyai Haji Zainuddin MZ di radio.

Ada puluhan ceramah Kyai Zainuddin yang pernah saya dengar. Tapi dari kesemuanya, adalah ceramah ini yang saya kira paling melekat dalam ingatan. Hari itu, Kyai Zainuddin bicara tentang ibadah puasa.

Tentu ada perkara yang melatarbelakangi kenapa saya ingat demikian lekat pada ceramah ini. Ceramah yang sebenarnya tak banyak mengandung kelucuan.

Terus terang, hal pertama yang membuat saya yang masih remaja mulai suka mendengarkan Kyai Zainuddin adalah suara tawa yang sering muncul menyelingi ceramahnya. Tawa yang kadang-kadang amat lepas, persis tawa-tawa yang terdapat di rekaman kaset Warkop Prambors dan Jayakarta Group yang beberapa di antaranya sempat saya koleksi.

Ceramah mengenai puasa ini, sekali lagi, kurang lucu. Tak banyak tawa. Tapi pada satu bagian, terasa benar menohok sampai ke ulu hati saya.

Kyai Zainuddin bilang, puasa merupakan ibadah yang sifatnya paling personal. Salat, membaca Al Quran, berzakat dan bersedekah, terlebih-lebih naik haji, bisa dilihat (dan dinilai?) oleh orang lain. Tapi puasa tidak.

Seseorang bisa dengan gampang ketahuan rajin salat atau sebaliknya jarang atau bahkan tak pernah salat. Seseorang dapat dengan mudah ketahuan pandai dan rajin membaca Al Quran atau sebaliknya malas atau tak pernah atau bahkan tidak bisa membaca Al Quran. Seseorang dapat terpantau sebagai ahli sedekah. Dan orang-orang bisa mengenali siapa-siapa saja yang belum berhaji dan sudah berhaji, apalagi yang pergi sampai berkali-kali.

Tapi, sekali lagi, puasa tidak. Bahkan orang yang paling dekat denganmu pun, kata Kyai Zainuddin, tidak tahu apakah kau berpuasa atau tidak. Ayah ibumu tidak tahu, saudara-saudaramu tidak tahu, istri atau suamimu tidak tahu, kawan-kawanmu, rekan kerjamu, tetanggamu, sama sekali tidak tahu. Mereka hanya bisa mengira-ngira dan berasumsi. Yang tahu pasti kamu berpuasa adalah dirimu sendiri, dan Allah.

Kalimat inilah yang membuat ulu hati saya serasa seperti ditusuk-tusuk. Tahun itu adalah tahun pertama saya bermain sepakbola di klub dan tahun pertama pula harus menjalani latihan di bulan Ramadan. Tak berat sebenarnya latihan itu. Tapi apa boleh buat, fisik saya yang masih remaja belum siap dan tak kuat.

Usai latihan, bersama sejumlah kawan yang juga menanggung kondisi serupa, saya minum, lalu bersantap siang.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved