Ngopi Sore

Bom dan Lebaran

Jika ISIS tak merepresentasikan Islam, lalu benda apakah mereka itu?

Bom dan Lebaran
AFP PHOTO
POLISI tengah mengamankan tempat kejadian perkara bom bunuh diri di Medinah, Arab Saudi, Senin (4/7) malam waktu setempat. 

TIDAK ada korelasi antara bom dan Idul Fitri, hari besar, hari raya, yang oleh umat Islam di Indonesia disebut juga dengan istilah lain, Lebaran. Bom, apapun bentuknya, memang nyaris selalu berhubungan dengan ledakan, dengan maut.

Sebaliknya Idul Fitri, Lebaran, pada hakekatnya adalah meriah. Kebahagiaan yang dirayakan setelah sepanjang Ramadan berupaya memperbaiki kualitas ibadah.

Tapi tahun ini, 2016, atau 1437 dalam penanggalan Islam, keduanya terkorelasi. Tentu saja bukan korelasi yang sahih. Melainkan yang terpaksakan untuk terhubungkan, melulu karena satu siasat busuk dari kelompok-kelompok yang dengan semena-mena melakukan pemanipulasian terhadap nama Tuhan.

Dalam kurun waktu kurang 24 jam, pada hari terakhir Ramadan, lima bom meledak. Empat di Arab Saudi satu di Indonesia. Kelimanya merupakan bom bunuh diri.

Media-media internasional kemudian mengabarkan bahwa ISIS telah menyatakan bertanggungjawab atas serangan di Arab Saudi. Di Indonesia, polisi mengaitpautkan serangan ke kantor polisi di Surakarta itu dengan kelompok teroris.

Pertanyaannya, adakah hubungan antara bom di Arab Saudi dengan bom di Indonesia? Jika ada, hal ini akan mementahkan analisis yang jamak perihal politik ekonomi global dan oil war, perang (karena) minyak.

ISIS adalah kelompok saparatis yang gaib. Mereka ada tapi tiada jelas betul siapa. Mereka merekrut anggota baru dari seluruh penjuru dunia. Tapi apa dan bagaimana filosofi ISIS juga sama kaburnya. Apakah Islam? Sama sekali tidak. Islam tidak pernah memerintahkan pembunuhan brutal. Bahkan dalam peperangan melawan musuh yang betul-betul kafir, Yang Mulia Kekasih Allah, Muhammad SAW, tetap memberikan pengampunan-pengampunan.

Jika ISIS tak merepresentasikan Islam, lalu benda apakah mereka itu?

Hillary Clinton, mantan menteri luar negeri yang sekarang jadi bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, entah kelepasan omong atau memang sengaja menciptakan isu, pernah menyebut bahwa ISIS tiada lebih dari "mainan" mereka. Sekadar biang kekacauan yang sengaja diciptakan untuk memuluskan kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Tapi referensi-referensi lain ternyata juga menunjukkan koneksi ISIS dengan Uni Eropa, khususnya Inggris, Perancis, dan Rusia, serta kekuatan-kekuatan besar di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved