Ngopi Sore

Mudik-Balik, Tradisi yang Masih Saja Mengancam Nyawa

Orang-orang Indonesia punya kecenderungan untuk mencoba hal baru. Termasuk pemudik. Tatkala ada ruas jalan baru, mereka ramai-ramai pindah ke sana.

Mudik-Balik, Tradisi yang Masih Saja Mengancam Nyawa
TRIBUN JABAR/BUKBISJ CANDRA ISMET BEY
SEJUMLAH kendaraan terjebak macet di Jl Cagak, Nagreg, Kabupaten Bandung, Sabtu (2/7/2016). Kendaraan pemudik dari arah barat menuju timur yang menggunakan Jalur Selatan Jabar terus meningkat, dan Dishub Kota Bandung memprediksi puncak arus mudik di Nagreg terjadi pada Sabtu (2/7/2016) malam hingga Minggu (3/7/2016). 

ADA satu anekdot terkenal di Indonesia. Anekdot yang sesungguhnya tidak pantas jadi anekdot. Padahal syarat sebagai anekdot sedikit banyak telah terpenuhi. Misalnya terkait unsur ironi yang mengandung kelucuan. Akan tetapi, justru karena itu pula jadi tak pantas. kelucuan membuatnya jadi terasa sangat kejam.

Menurut anekdot itu, ternyata, ada yang sama mematikan dari perang: mudik. Konon berasal dari bahasa Jawa yang diakronimkan, 'mudih silik' yang artinya 'pulang sebentar', aktivitas perjalanan kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran ini, berubah horor.

Suasana suka cita, senyum dan tawa yang menyela gema takbir, berganti tangis meratapi kematian. Dalam sepuluh tahun terakhir, angka kematian tertinggi (selama mudik dan balik) tercatat pada tahun 2012, yakni 908 orang.

Jika diasumsikan berdasarkan kebiasaan, di mana fase mudik dan balik akan berlangsung selama tujuh sampai 10 hari, maka rata-rata orang yang menjemput kematian berjumlah 3,78 orang per jam. Jumlah ini hampir sama dengan rata-rata kematian pada Perang Bosnia. Berlangsung tiga tahun (1992-1995), Perang Bosnia memakan korban kurang lebih 100 ribu orang atau sekitar 3,8 orang per jam.

Menyikapi kecenderungan yang mengenaskan ini, tentu saja, pemerintah Indonesia tidak berpangku tangan. Sejumlah terobosan dibuat. Baik pada era pemerintah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun sekarang di bawah Joko Widodo.

Jika demikian, pertanyaannya, kenapa persoalan terkaitpaut horor tradisi mudik tetap terjadi? Pertanyaan seperti ini terang saja sangat susah dijawab. Mudik (juga balik) dan horor yang menyertainya sudah menjelma masalah yang begitu kompleks. Ibarat benang yang gulungannya terlepas hingga membuatnya jadi awut-awutan, tingkat kekusutannya sudah mencapai titik mesut; kusut yang teramat sangat. Hingga untuk mengurainya tidak sekadar diperlukan waktu yang lama, tetapi juga kesabaran luar biasa.

Pemerintahan SBY dan Jokowi, saya kira, sudah berupaya melakukannya sebisa dan sebaik mungkin. Mereka bahkan mencoba menggeber gas, ngebut, untuk mengurai masalah dalam waktu lebih cepat.

Hasilnya sampai sejauh ini memang belum terlalu menggembirakan. Ada yang sudah terurai, seperti persoalan yang telah menahun di Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk. Setidaknya tak ada lagi kemacetan yang mengular hingga puluhan kilometer.

Tapi masih banyak yang belum berubah. Contohnya di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung. Bahkan ada kekusutan baru. Para pengguna internet, dalam hal ini pengguna media sosial di Indonesia yang memang punya kreativitas jempolan, memopulerkan istilah Brexit. Tidak ada hubungan dengan keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa, sebab Brexit ini adalah akronim 'Brebes Exit'. Semacam ejekan yang berangkat dari kekesalan menyikapi antrean gila-gilaan menuju pintu keluar ruas jalan tol Pejangan-Pemalang, khususnya di Seksi I (Pajangan-Brebes Barat) dan Seksi II (Brebes Barat-Brebes Timur).

Antrean berkilo-kilometer, yang sama sekali "tak bergerak", membuat para pemudik harus menginap di kendaraan masing-masing. Informasi beredar, banyak yang semaput. Hilang kesadaran lantaran dehidrasi dan penyakit lainnya. Disebut-sebut, sebanyak 12 orang meninggal dunia.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved