Kubu Fethullah Gulen Sanggah Tuduhan Makar dari Pemerintah Turki

"Kami mengecam intervensi militer apa pun dalam politik dalam negeri di Turki," ujar Aliansi Nilai-nilai Bersama.

Kubu Fethullah Gulen Sanggah Tuduhan Makar dari Pemerintah Turki
Int
Fethullah Gulen, ulama moderat Turki yang kini mengasingkan diri ke AS dan tinggal di Saylorsburg, Pennsylvania. 

TRIBUN-MEDAN.com, HARRISBURG - Organisasi yang berbasis di Amerika Serikat dan dekat dengan ulama Islamis Turki, Fethullah Gulen, Sabtu (16/7/2016), menyangkal keterlibatan mereka dalam percobaan kudeta militer, Jumat (15/7) melawan President Recep Tayyip Erdogan.

"Kami mengecam intervensi militer apa pun dalam politik dalam negeri di Turki," ujar Aliansi Nilai-nilai Bersama dalam pernyataan mereka, seperti dilaporkan Reuters.

"Berbagai komentar dari lingkaran-lingkaran pro-Erdogan mengenai gerakan ini sangat tidak bertanggung jawab," kata mereka.

Menteri Kehakiman Turki Bekir Bozdag mengatakan di dalam wawancara televisi bahwa para anggota gerakan yang setia pada Gulen, yang tinggal di Pennsylvania, terlibat dalam percobaan pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Gulen, yang didakwa di Turki atas rencana menggulingkan pemerintahan, kasus yang menurut pendukungnya bermuatan politik, tinggal di pengasingan di AS selama lebih dari satu dekade.

Erdogan yang melakukan wawancara baik lewat FaceTime dengan stasiun TV lokal Jumat, mengatakan, Turki “tidak bisa dioperasikan dari Pennsylvania”, acuan jelas kepada Gulen.

Pada Mei lalu, Erdogan mengklasifikasikan gerakan keagamaan Gulen sebagai kelompok teroris.

Saat itu dia mengatakan, akan memburu anggota-anggotanya yang dituduhnya berusaha menggulingkan pemerintah.

Dalam tahun-tahun terakhir, pemerintah Turki mengambil alih perusahaan-perusahaan yang diketahui punya kaitan dengan Gulen.

Aparat terkait juga menahan ratusan pengikutnya serta mencopot ribuan pendukung Gulen dari jabatan di pemerintahan.

Pemerintah Turki menuduh gerakan Gulen melakukan infiltrasi ke dalam lembaga kepolisian, peradilan, dan sistem politik, serta menciptakan sebuah negara di dalam negara. (*)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved