Ngopi Sore

Kudeta Gagal: Pelajaran Politik dari Turki

Presiden Erdogan, lewat siaran televisi pemerintah, menyerukan agar rakyat ikut melawan.

Kudeta Gagal: Pelajaran Politik dari Turki
AFP PHOTO/OZAN KOSE
WARGA Turki membentangkan bendera raksasa dalam aksi unjukrasa anti-kudeta di Taksim Square, Istanbul, Sabtu (16/7). Kudeta yang dilakukan oleh militer Turki ini berhasil dipatahkan. 

BERSELANG kurang lebih 24 jam dari kabar buruk perihal pembunuhan massal yang (lagi- lagi) terjadi di Paris, Perancis, tanah Eropa kembali terguncang oleh kabar yang tak kalah mengejutkan. Datang dari Turki. Militer melakukan upaya kudeta terhadap pemerintah pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Upaya ini dilakukan saat presiden berada di luar negeri. Sepasukan tentara membajak kendaraan lapis baja dan memblokade jalan-jalan masuk menuju Ankara, ibukota negara dan pusat pemerintahan. Sepasukan yang lain menguasai Bandar Udara Internasional Ataturk dan Istanbul, kota terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak. Selain tank dan panser, tentara-tentara ini juga membajak sejumlah pesawat tempur dan helikopter.

Kita tahu kudeta akhirnya gagal. Serangan dipatahkan. Lebih dari 100 orang tewas. Apakah karena kekuatan kelompok pengkudeta yang kurang besar? Barangkali demikian.

Kudeta dilakukan oleh militer, namun tidak secara keseluruhan. CNN, Reuters, Al Jazeera, New York Times, dan Guardian, melaporkan bahwa telah terbentuk faksi-faksi di tubuh militer Turki. Dan upaya kudeta ini, dilakukan oleh satu faksi yang menentang langkah-langkah politik Erdogan, terutama politik luar negeri menyangkut Amerika Serikat, Uni Eropa, Israel, dan ISIS.

Kudeta yang sungguh nekat. Dan juga sangat gegabah. Menurut kantor berita Anadolu, faksi ini digerakkan oleh lima jenderal dan 29 perwira menengah. Kelima jenderal disebut-sebut "bukan jenderal penting". Kendati demikian, mereka, juga para perwira menengah yang terlibat, belum ditahan sebagaimana 754 serdadu yang berada di garis depan upaya kudeta. Sejauh ini pemerintah Turki baru mencopot masing-masing mereka dari jabatan dan "dirumahkan", guna menunggu proses hukum lebih lanjut.

Dengan kata lain, bukan cuma kekuatan yang kurang besar, persiapan yang dilakukan pun tidak matang. Tak ada rencana cadangan apabila pukulan pertama gagal. Atau jangan-jangan, para pelaku kudeta ini tidak memperhitungkan kegagalan?

Situasi politik dalam dan luar negeri Turki akhir-akhir ini memang kacau. Dominasi Erdogan sebagai individu yang kian kental di pemerintahan, bukan cuma membikin gerah lawan- lawannya, tetapi juga mulai mengusik sekutu-sekutunya. Erdogan diserang, coba dilemahkan lewat berbagai cara. Termasuk lewat media, baik media massa maupun media sosial.

Dan reaksi- reaksi Erdogan, yang tidak semuanya populer (bahkan ada yang sangat keras), memunculkan pendapat demi pendapat, reaksi demi reaksi, yang beberapa di antaranya membuat dia terpojok dan kehilangan dukungan. Di parlemen, posisi kelompok-kelompok oposan terus menguat.

Para pelaku kudeta barangkali menjadikan situasi ini sebagai tolok ukur. Bahwa keterpojokan dan berkurangnya dukungan terhadap Erdogan, bakal membuat upaya mereka berjalan mulus. Mereka keliru.

Kolumnis The Washington Post, Anne Applebaum, melepaskan cuit yang di-retweet ribuan kali oleh para pengguna Twitter di dunia. Tulisnya: "Amazing story in Turkey: Military coup defeated in part by democratic opposition, media, that Erdogan wants to destroy." Kisah luar biasa dari Turki, kata Anne. Kudeta militer digagalkan oleh kelompok oposisi dan media yang hendak dibinasakan oleh Erdogan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved