Sejak Desember, Perancis Tutup 20 Masjid dan Mushala yang Sebar Radikalisme

Otoritas Perancis telah menutup sekitar 20 masjid dan mushala, sejak bulan Desember lalu.

Sejak Desember, Perancis Tutup 20 Masjid dan Mushala yang Sebar Radikalisme
Associated Press
Truk lori yang digunakan dalam serangan teror di Nice, Perancis selatan, Kamis (14/7/2016) malam. 

TRIBUN-MEDAN.com, PARIS - Otoritas Perancis telah menutup sekitar 20 masjid dan mushala, sejak bulan Desember lalu.

Hal ini dilakukan menyusul gerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam dan menebar teror di Perancis.

Masjid dan mushala yang ditutup itu diyakini telah dipakai untuk menebar kebencian dan faham radikalisme.

Hal ini diungkapkan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, Senin (1/8/2016), seperti dilansir kantor berita AFP.

"Tidak ada tempat di Perancis untuk mereka yang menghasut dan menebarkan kebencian di tempat shalat atau pun masjid. Juga tak ada tempat bagi mereka yang tak menghormati prinsip di negeri ini, terutama tentang kesamaan hak antara pria dan wanita," ungkap dia.

"Alasan itulah yang menyebabkan saya mengambil keputusan beberapa bulan lalu, untuk menutup sejumlah masjid, dengan alasan kedaruratan, berdasarkan penilaian hukum maupun administratif," kata dia lagi.

"Ada sekitar 20 masjid yang sidah ditutup dan akan ada lagi penutupan lain," tegas Caseneuve.

Cazeneuve mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam pertemuan para pemimpin lembaga Muslim di Perancis.

Tercatat, ada tak kurang dari 2.500 masjid dan mushala di Perancis. Ada 120 di antaranya yang diduga berkiblat kepada faham radikal salafisme, dan juga menginterpretasi suni secara radikal.

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2012, ada 80 orang yang diusir dari Perancis dan lusinan lainnya akan segera menyusul. Namun dia tak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang keterangan ini.

Pertemuan dengan para pemimpin lembaga Islam di Perancis itu digelar sebagai upaya untuk menghadapi ancaman terorisme.

Terakhir kali, Perancis mengalami serangan teror di Kota Nice, di mana 84 orang tewas akibat truk yang ditabrakkan kerumunan massa dan pembunuhan seorang pastor di gereja di Normandy, Saint-Etienne-du-Rouvray.

Serangan yang berulang terjadi di Perancis menimbulkan pertanyaan besar tentang kegagalan aparat keamanan untuk melakukan tugasnya.

Namun tak hanya membahas terorisme, pertemuan ini pun membahas adanya pendanaan asing untuk pembangunan masjid di Perancis.

Perdana Menteri Manuel Valls, Minggu lalu menyatakan, dia sedang mempertimbangkan untuk menutup keran bantuan dana asing untuk pembangunan masjid di Perancis. (*)

Editor: akb lama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved