Baca Edisi Cetak Tribun Medan

Cerita Si Kantan Dibuat Sinetron

Persatuan Artis Sinetron Indonesia Sumatera Utara bekerjasama dengan Pemkab Labuhanbatu angkat kearifan lokal.

Tayang:
ist
Indra Teruna, Sutradara Film Si Kantan 

MEDAN, TRIBUN - Persatuan Artis Sinetron Indonesia Sumatera Utara (Parsi Sumut) kembali memproduksi film dengan konsep budaya dan kearifan lokal. Bekerja sama dengan Bupati Labuhanbatu, Parsi mengangkat cerita Si Kantan menjadi cerita sinetron.

"Senin ini kita ke Labuhanbatu untuk pembuatan film Si Kantan, itu ada pulau di sana. Nah film itu tentang asal mulanya pulau itu yang namanya Si Kantan, anak durhaka yang jadi pulau," kata sutradara Si Kantan, Indra Teruna didampingi Ade Yunita, salah satu artis sinteron Parsi Sumut di Jalan HM Yamin, Minggu (7/8).

Indra sebagai pegiat film lokal mengatakan, Parsi memang biasa bekerja sama dengan instansi-istansi pemerintahan. Disebutnya, instansi itu punya pesan tentang budaya-budaya kearifan lokal. Misalnya instansi kebudayaan dan pariwisata.
"Parsi Sumut bekerja sama dengan Bupati Labuhanbatu mengangkat cerita Si Kantan sebagai sinetron, merupakan legenda yang mengakar di masyarakat Labuhanbatu," katanya.

Indra meceritakan, Si Kantan merupakan cerita daerah di Labuhanbatu, tepatnya di Labuhanbilik tentang terbentuknya pulau kecil yang diberi nama Si Kantan. Cerita Si Kantan kemudian diketahui sebagai kisah anak yang lupa diri akan asal usulnya setelah menjadi kaya raya sebagai perantau, durhaka kepada orangtua.

"Nah di film Si Kantan, pesan moralnya agar kita memghormati orangtua, tanpa orangtua kita tidak bisa jadi apa-apa. Jadi sebenarnya ini, cerita yang sederhana saja, agar ini menjadi contoh supaya kita tidak mengkhianati janji, apalagi janji dengan orangtua," katanya.

Selain cerita Kantan, di film ini budaya yang ada di Labuhanbatu akan dieksplore. Mulai dari tata adat, tata keramahan dan berbagai simbol budaya Labuhanbatu.

"Dalam film ini dibalut dengan adat istiadat, senandung puisi dan pantun. Misalnya tarian Si Gambang sebagai penampilan budaya. Intinya back to Adat. Karena saat ini banyak yang sudah tidak berbudaya lagi," katanya.

Utamakan Artis Lokal
Indra Teruna atau akrab disapa Pak Una mengatakan, selama ini lebih mengutamakan artis-artis lokal dalam setiap film yang diproduksi. Cara itu dipilihnya sebagai upaya menaikkan pamor artis lokal dan memanfaatkan putra-putri daerah.

"Dalam setiap film saya mengutamakan seniman dan seniwati lokal sebagai pemeran. Kalau mereka gak bisa baru pakai artis Parsi," katanya.

Sebelum memproduksi film Si Kantan, film-film lainnya yang telah diproduksi Parsi Sumut, berbau kesenian budaya dan pariwisata daerah. Soal lingkungan hidup misalnya, ada film Pencurian Kayu, tentang pariwisata ada film Cintaku di Kota Medan, tentang konflik ada film Peti Kontener bekerja sama dengan Polda Sumut.(cr3)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved