Ngopi Sore

Menteri Kita Orang Amerika

Ke-Indonesia-an terletak di dalam diri. Ke-Indonesia-an mengalir dalam darah. Bukan di lembaran paspor.

Menteri Kita Orang Amerika
www.bacakabar.com
ARCHANDRA Tahar dan keluarga 

KENAPA harus ribut-ribut perihal status kewarganegaraan menteri ESDM? Apakah dia warga Indonesia atawa Amerika, kenapa harus dipersoalkan? Bukankah dia orang Minang, emak-bapaknya tulen orang Minang dan ari-arinya ditanam di tanah Minangkabau?

Ke-Indonesia-an dan ke-Amerika-an itu letaknya di dalam dada, di dalam pikiran, bukan di paspor. Saya punya seorang kawan di Malaysia. Dia lahir dan besar di Lubukpakam, Sumatera Utara, namun kini jadi warga Malaysia, berpaspor Malaysia. Dia memang harus jadi warga Malaysia karena tanpa paspor itu dia hanya akan mendapat pekerjaan yang disediakan bagi warga-warga asing. Bukan pekerjaan para bumiputera yang levelnya jauh lebih tinggi --sehingga tentunya mendapatkan gaji dan fasilitas yang lebih baik pula.

Untuk lebih menguatkan identitas ke-bumiputera-annya, kawan saya ini menikah pula dengan perempuan Malaysia. Dari pernikahan ini dia punya dua anak.

Apakah setelah lebih 15 tahun berlalu ke-Indonesia-an hilang dari dalam dirinya? Saya bertemu dia setahun lalu. Dia makmur, sekarang. Rumahnya besar dan di garasi rumah itu ada satu Mercedes dan dua Proton. Ada juga sepeda motor sport Honda, 500 cc, tongkrongannya mirip motor yang dikendarai Marc Marquez di MotoGP.

Obrol punya obrol, tanpa sengaja terperdengarkanlah satu lagu yang saya simpan di dalam memori telepon selular saya. Benci Tapi Rindu, versi cover Marcelo Tahitu alias Ello, anak lelaki penyanyi asli lagu ini, Diana Nasution. Saya memang memutarnya saat berada di taksi dan entah bagaimana bisa mengalun kembali. Barangkali saya lupa menonaktifkan layar dan tombol 'play' pada aplikasi music player tersentuh.

Lagu ini membuat percakapan kami terhenti. Dia tercenung, lalu matanya berkaca-kaca, dan menitik jadi tangis kecil tepat di saat lagu selesai. Saya sebenarnya ingin tertawa. Merasa geli sekali. Baru kali itu saya meyaksikan orang menangis karena mendengarkan lagu Rinto Harahap.

Meski lagu-lagu model begini pernah disebut 'cengeng' oleh Harmoko, menteri paling aduhai di era Orde Baru, sepanjang saya tahu dan saya ingat, tidak pernah ada yang betul-betul menangis karenanya. Kecuali --tentu saja-- penyanyinya sendiri, yang menangis melulu sebagai akting agar kesedihan yang hendak disampaikan lagu tersebut terasa lebih meyakinkan.

Tapi apakah dia menangis benar-benar karena bait-bait syair Benci Tapi Rindu? Tidak. Atau jangan-jangan dia penggemar berat Diana Nasution? Tidak juga. Lantas apa? "Aku teringat kampungku, teringat mendiang ayah dan emakku, saudara-saudaraku, teringat kawan-kawan sepermainan kita," katanya.

Percakapan kemudian bergeser. Tidak lagi pada Mercedes dan Proton. Tidak lagi pada perusahaan perkebunan tempatnya menambang Ringgit. Tidak lagi pada perseteruan Najib Razak dan Mahathir Mohamad. Tapi pada segala yang berkaitpaut dengan Lubukpakam, dengan Indonesia.

Dia bilang, tiap kali pebulutangkis Indonesia bermain di Kuala Lumpur, dia pasti hadir menonton. Memberikan dukungan. Dia tidak begitu suka sepakbola, tapi sekarang jadi suporter fanatik Selangor FC. Sebabnya cuma satu. Andik Vermansyah bermain di sana.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved