Ngopi Sore

Tentara Menggebuk Rakyat, Merdeka!

Alih-alih melindungi, penyelenggara negara dan pemangku kebijakan justru seringkali berada di barisan terdepan untuk mengelabui dan mencelakai rakyat.

Tentara Menggebuk Rakyat, Merdeka!
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
BUBARKAN MASSA - Sejumlah anggota TNI AU membubarkan massa warga Sari Rejo yang melakukan aksi unjukrasa dengan memblokir jalan di kawasan Jalan Avros Medan, Sumatera Utara, Senin (15/8/2016). Unjukrasa tersebut berakhir bentrok antara warga dan TNI AU. Akibat bentrokan itu, sedikitnya empat wartawan jadi korban kekerasan oknum TNI AU. 

BESOK Indonesia genap 71 tahun dan suara pekik merdeka akan terdengar lebih parau dari sebelumnya. Pekik yang barangkali juga akan dijawab dengan kata yang ditulis Ikranegara dalam puisinya yang nakal dan janggal, tetapi makin ke sini, kok, ya, makin terasa sebagai kebenaran.

Merdeka!
Belum

Pertanyaannya, apakah kita memang belum merdeka? Secara fisik tentunya sudah. Tidak ada Spanyol tidak ada Portugal. Tidak ada lagi komandan kompeni yang wara-wiri di atas kuda dan memasang tampang angkuh dan mulutnya tiada henti mencecarkan makian 'godverdomme' dan 'inlander'.

Tidak ada lagi saudara tua: maniak-maniak yang membikin negeri terkasih ini hancur sehancur- hancurnya dalam tempo tiga setengah tahun saja. Tidak ada NICA. Tidak ada Jan Pieterszoon Coen, tidak ada Raymond Pierre Paul Westerling.

Namun tentu pula merdeka bukan sekadar fisik. Bukan cuma badaniah. Merdeka juga mencakup pikiran dan hati. Merdeka dalam jiwa. Dan sungguh sangat disayangkan, sampai 71 tahun sejak teks proklamasi dibacakan Soekarno, merdeka masih sebatas fisik. Pikiran belum, hati belum, jiwa apalagi, dan inilah sebab kenapa ketidakpuasan terus menyeruak.

Merdeka, juga kemerdekaan, tak lebih dari seonggok kata yang diabadikan tanpa makna di lembaran teks proklamasi. Merdeka, juga kemerdekaan, seolah-olah ditinggalkan di tembok- tembok kota yang sudah lama diruntuhkan. Kesalahkaprahan yang melahirkan semangat untuk berpisah dari republik: DI, RMS, GAM, OPM.

Apakah saya terlalu skeptis? Mereka yang sampai hari ini hidupnya anteng-anteng belaka, yang masalah terbesar yang dihadapinya adalah keterlanjuran meneguk kopi yang oleh baristanya ternyata dicampur gula dan itupun bukan gula rendah kalori, barangkali akan beranggapan demikian. Mereka akan menganggap gugatan terhadap merdeka sebagai keceriwisan yang mengada-ada.

Orang-orang semacam ini tentunya tidak boleh disalahkan. Tuhan menurunkan keberuntungan dan sungguh beruntung mereka yang mendapatkannya. Tapi faktanya, memang, sedikit yang seperti mereka. Tidak sampai 20 persen. Sisanya adalah para jelata yang disebut Wiji Thukul sebagai 'serdadu-serdadu kebijaksanaan'. Serdadu yang lahir karena adaptasi yang terpaksa atas keadaan yang mau tak mau, suka tidak suka, mesti diterima. Bahwa masalah nomor satu adalah hari ini, jangan mati sebelum dimampus takdir.

Meski jelata, meski serba berkekurangan, orang-orang dalam kelompok ini pada dasarnya tetap berhak menikmati kemerdekaan. Bentuknya mungkin bukan secangkir kopi kualitas premium di kafe-kafe branded. Bukan pakaian dalam Victoria Secret. Bukan jam tangan Richard Mille. Bukan BMW, Audi, Mercedes, Jaguar, Ferrari. Bukan apartemen di kawasan segi tiga emas Jakarta. Bukan yacht. Bukan sepetak tanah dengan nisan marmar kelas satu di San Diego Hills atau Al Azhar Memorial Garden.

Melainkan hak untuk berserikat dan berkumpul. Hak untuk berpendapat. Hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan, dan untuk mendapatkan nafkah. Pendeknya, hak untuk dilindungi oleh penyelenggara negara dan pemangku-pemangku kebijakan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved