Breaking News:

Ngopi Sore

Super Sekali, Pak Mario

Tatkala ribut-ribut menyeruak, Mario Teguh tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
CAPTURE KOMPAS TV

SEJAK Indonesia merdeka sampai setidaknya akhir dekade 1990an, sama sekali belum terbayangkan betapa aktivitas berbicara di depan umum --di luar penceramah agama (ustad, pastor, pendeta, dan lainnya), dosen, dan guru-- dapat dijadikan sandaran hidup. Dijadikan profesi. Terlebih-lebih diandalkan untuk mencari kekayaan.

Sama sekali tidak. Dosen dan guru, setidaknya sampai saat itu, adalah pekerjaan-pekerjaan yang hanya mungkin dipilih oleh orang-orang yang tak berpikir untuk menjadi kaya. Para penceramah agama apalagi. Mereka bekerja untuk Tuhan. Mereka mencari surga, bukan uang. Tentu saja tetap ada dosen, guru, dan penceramah agama yang kaya. Akan tetapi mereka dianggap sebagai kekecualian. Kelompok minoritas yang entah mendapat keberuntungan atau memang berlaku curang.

Lalu kemudian perubahan yang revolusioner terjadi. Aktivitas berbicara di depan umum menjelma profesi baru yang sangat menjanjikan. Pengidentifikasiannya pun keren, public speaking, yang kemudian dicacah-cacah pula, dibagi ke dalam empat bagian besar: (1) berbicara untuk melaporkan; (2) berbicara secara kekeluargaan; (3) berbicara untuk meyakinkan; dan (4) berbicara untuk merundingkan.

Aplikasinya lebih beragam, mulai dari yang paling sederhana semisal memimpin rapat atau memberikan pengarahan, hingga yang lebih rumit seperti orasi, pidato, ceramah, dan presentasi.

Di antara para public speaker (sebutan untuk orang yang melakukan public speaking), satu "jenis" melesat lebih cepat dari yang lain. Yaitu motivator. Sekilas pintas mirip penceramah agama, akan tetapi ruang lingkup bicaranya lebih universal, tidak spesifik ke satu agama.

Semacam versi audio dan visual dari buku-buku Chicken Soup for Soul yang marak di pertengahan 1980an hingga awal era 1990an. Semacam penasihat spiritual yang berpenampilan lebih modern dan serba bergaya. Mereka mengenakan jas, dasi, dan sepatu kulit serba mengkilap.

Lesatan para motivator tidak cuma menyangkut finansial, di mana mereka mendapatkan bayaran belasan, puluhan, bahkan ratusan juta sekali tampil selama kurang lebih tiga sampai empat jam. Bahkan ada yang menerima bayaran sebesar itu meski cuma ngomong satu dua jam. Lesatan juga terjadi pada popularitas. Mereka memiliki kolom tetap di media cetak, program acara tetap di radio dan televisi, lalu menjelma selebriti.

Sejumlah motivator sudah sampai pada tahapan ini. Seorang di antaranya Mario Teguh. Saya menemukan sosoknya pertama kali lewat program Golden Ways, dan harus saya akui, sempat terpesona. Betapa meyakinkan cara dia memberikan penjelasan dan jalan keluar atas persoalan- persoalan yang ditanyakan. Saya kagum, bahkan nyaris heran, betapa bagi Mario Teguh, tidak ada persoalan, sepelik apapun, yang tidak dapat diselesaikan.

Apakah kemudian saya menuruti nasihat-nasihatnya? Disinilah letak masalah. Sepanjang ingatan saya, tidak ada satupun. Kenapa? Bagi saya, nasihat-nasihat Mario Teguh seringkali kelewat ideal. Terlalu sempurna. Entahlah, saya, kok, ya, merasa hidup ini (dan penyelesaian-penyelesaian persoalannya), tidaklah sesederhana, tidaklah semudah apa yang "dicuap-cuapkan" Mario Teguh.

Maka apa boleh buat, alih-alih mengingat dan melaksanakan nasihatnya, saya justru lebih terkenang-kenang pada tiga  kalimatnya yang di telinga saya kedengaran begitu aduhainya: "sahabat saya yang baik hatinya", "salam super", dan "super sekali".

Tentu saja, di luar saya, Mario Teguh tetap punya banyak pendengar. Banyak pengagum dan pengikut. Orang-orang yang (barangkali) menuruti segala nasihatnya dan setia memberikan apresiasi pada tiap-tiap kata-kata mutiara yang dipampangkannya di media sosial.

Bahkan boleh dibilang, militansi para pengikut Mario Teguh ini sungguh luar biasa. Hanya bisa dikalahkan oleh pengikut Jokowi, Prabowo, Ahok, dan Jonru. Jangan sesekali berkomentar yang jelek-jelek jika tidak ingin mengalami perisakan secara nasional. Oleh para pengikut ini, para oposan progresif dan radikal semacam penyebar meme kesohor "hidup tak seindah cocote Mario Teguh", dicap sebagai pendosa yang jadi musuh bersama sampai akhir zaman.

Namun begitulah. Tiba-tiba, bangunan kejayaan dan kerajaan kesuksesan Mario Teguh terguncang. Terancam roboh. Seorang lelaki bernama Ario Kiswinar menggugatnya. Bukan gugatan biasa, sebab Ario Kiswinar menggugat atas penelantaran yang menurutnya dilakukan Mario Teguh selama 30 tahun. Ario Kiswinar mengaku sebagai anak kandung Mario Teguh, dari istri pertama, dan oleh Mario Teguh tidak pernah diakui.

Tatkala ribut-ribut menyeruak, Mario Teguh tetap bersikukuh pada pendiriannya. Di televisi, dalam satu program bincang-bincang pagi, dia membuka satu rahasia yang tidak banyak diketahui orang. Perihal rumah tangganya. Perihal kecurigaan-kecurigaannya bahwa rumah tangga pertamanya itu dirusak oleh orang ketiga dan orang ketiga inilah yang ia curigai sebagai bapak kandung Ario. Di akhir program, dia menantang Ario melakukan tes DNA untuk membuktikan benar tidaknya mereka sedarah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved