ISIS Larang Pakai Jersey Real Madrid dan Barcelona Atau Dihukum Cambuk

Ulama negara Islamic State Iraq and Syria (ISIS) mengeluarkan fatwa yang cukup kontroversi dengan melarang pengikutnya mengenakan jersey bola

ISIS Larang Pakai Jersey Real Madrid dan Barcelona Atau Dihukum Cambuk
Getty Images
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com - Ulama negara Islamic State Iraq and Syria (ISIS) mengeluarkan fatwa yang cukup kontroversi dan telah menjadi undang-undang dengan melarang pengikutnya mengenakan jersey tim sepak bola.

Seperti yang dikutip dari The Sun tim sepak bola yang jersey-nya dilarang masing-masing adalah Barcelona, ​​Real Madrid dan AC Milan. Menurut mereka pemakaian jersey tersebut merupakan contoh penyembahan berhala

Negara Islam fanatik itu telah melarang pengikutnya mengenakan baju produk Inggris terutama yang dibuat oleh raksasa olahraga Nike dan Adidas.

Rezim negara itu sudah mulai membagi-bagikan selebaran di ibukota Raqqa di Suriah Utara untuk memberikan peringatan dengan tindakan keras kepada penduduk setempat.

Mereka yang melanggar aturan itu diancam hukum cambuk sebanyak 80 kali di depan umum.


Anehnya, beberapa pengikut ISIS malah mengenakan sepatu buatan Nike

Aturan itu berlaku untuk setiap orang, baik itu laki-laki, anak-anak maupun perempuan yang di dalam komunitas mereka diwajibkan mengenakan niqab hitam dan sarung tangan jika berada di depan umum.

Pakar Timur Tengah Aymenn Al-Tamimi mengatakan undang-undang baru itu memberikan ruang dalam birokrasi pemerintahan untuk mengklaim bahwa semua undang-undang dan aturan itu dikutip berdasarkan Al-quran.

Dosen dari sebuah universitas itu menjelaskan 'desakan mengatur setiap aspek kehidupan mereka' membuat ISIS tetap eksis.


Ini sepatu yang dikenakan para jihadis yang diperlihatkan melalui media sosial

"Salah satu tujuan ISIS 'adalah untuk menyajikan gambaran pemahaman religius, menampilkan pengetahuan mereka tentang hukum Islam untuk membenarkan bahwa mereka memiliki otoritas moral," katanya.

"Sudah jelas bahwa ulama ISIS dan sarjana mereka sangat akrab dengan teks-teks agama dan menggunakannya untuk meyakinkan serta membujuk pengikut ISIS, yang juga membuat mereka tahan terhadap setiap argumen yang berlawanan dalam agama."

ISIS juga telah mulai kembali untuk membuka universitas, tetapi melarang bidang arkeologi dan kursus di bidang pariwisata serta manajemen hotel.

Al-Tamimi menambahkan: "ISIS melarang arkeologi bukan kejutan. Kami melihat bahwa itu terlihat ketika ISIS melakukan perusakan terhadap artefak kuno. ISIS menganggap artefak pra-Islam sebagai peninggalan dari 'masa kebodohan', jahiliyah."

"Perhatian utama mereka dengan arkeologi adalah bahwa hal itu akan menjadi subjek beralih ke penyembahan berhala, yang dilarang dalam Islam."

"Pelarangan bidang manajemen hotel dan pariwisata mungkin tampak aneh. Tetapi tidak ada hotel di bawah kekuasaan ISIS. Semua hotel telah diambil alih dan ditutup, baik disewakan atau telah menjadi rumah untuk keluarga."

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved