Maruli Damanik: Budaya dan Destinasi Wisata Simalungun sedang Tidur Panjang

Maruli Damanik mengatakan, bahwa saat ini Budaya dan Destinasi Simalungun sedang dalam tidur panjang.

Maruli Damanik: Budaya dan Destinasi Wisata Simalungun sedang Tidur Panjang
Tribun Medan/ Hendrik
Putra Simalungun, Maruli Damanik saat berbincang dengan Tribun di kediamannya Kompleks Perumahan Debang Taman Sari Jalan Flamboyan Medan, Selasa (11/10/2016) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Hendrik Naipospos

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Putra Simalungun, sekaligus pengusaha yang bergerak di bidang destinasi wisata, Maruli Damanik mengatakan, bahwa saat ini Budaya dan Destinasi Simalungun sedang dalam tidur panjang.

Hal ini ia sebutkan ketika menilik posisi musik Simalungun yang tergolong tertinggal dengan musik tradisi dari daerah lainnya.

"Ini kisah nyata, saja jalan-jalan ke Ringroad City Walk, di sana ada toko kaset yang sudah punya nama besar di Medan. Saya tanya kaset Simalungun, satu pun gak ada. Tapi kaset dari daerah lain terpajang rapi. Ini bukti posisi kita tertinggal. Harus bangkit," sebut Maruli di kediamannya Kompleks Perumahan Debang Taman Sari Jalan Flamboyan Medan, Selasa (11/10/2016).

Sedangkan di sektor pariwisata ia mengkritik Kota Parapat yang merupakan pantai bebas Danau Toba, namun seakan tak lagi populer bagi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Coba anda kunjungi parapat selain malam minggu. Gak ada orang, hanya penduduk lokal di sana. Ada apa ini, harus ada pembenahan. Saya ada masukkan tapi gak mungkin saya menggurui pemerintah. Silakan ketemu dengan saya, konsultasi gratis," sambungnya.

Ia tak dapat menjelaskan secara rinci penyebab hal ini. Namun ia meminta pemerintah dapat mengalokasikan sebagian dana untuk mendukung industri kreatif yang dilakoni putra Simalungun.

"Perasaan ku karena kurang perhatian, terutama dalam hal materi. Kalau dipandang, orang Simalungun sangat kreatif. Kalau mereka mau buat album langsung dibantu lah. Seharusnya biaya terhadap sosial dan budaya bisa dialokasikan di situ. Kalau sudah ada sponsor kan mereka tidak takut ciptakan album. Nama Simalungun juga yang diangkat," jelas Maruli.

Maruli tak sekadar memberikan kritik, ia menyebutkan, telah menginisiasi sebuah program yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan popularitas Simalungun.

"Tanggal 22 Oktober nanti saya beserta pelaku seni Simalungun akan menggelar Senandung Simalungun di Samosir. Mudah-mudahan ini dapat melepaskan kerinduan terhadap Simalungun. Sebatas inilah yang kami bisa berikan," pungkasnya.

(cr2/tribun-medan.com)

Penulis: Hendrik Naipospos
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved