Breaking News:

Ngopi Sore

Dua Tahun Jokowi: Mencintai dan Membenci

Jokowi tidak tampil utuh. Hanya tampak samping. Mengenakan jaket hitam yang retsleting-nya dibuka sampai bagian dada. Dia melambaikan tangan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
FACEBOOK

Akan tetapi tidak sedikit foto pula yang jujur. Foto-foto dalam klasifikasi ini, entah disadari entah tidak, menggambarkan siapa Jokowi yang sebenar-benarnya dan bagaimana sikap dan penilaian orang lain (juga dengan sebenar-benarnya) terhadap dirinya. Pemaknaan dan penafsiran yang menyeruakkan benci dan cinta yang serba sejati.

Secarik foto tanpa kata-kata dari Papua, saya kira, dapat mewakili klasifikasi terakhir. Jokowi tidak tampil utuh. Hanya tampak samping. Mengenakan jaket hitam yang retsleting-nya dibuka sampai bagian dada. Dia melambaikan tangan ke arah kerumunan orang yang berjarak kurang dari satu meter darinya.

Kerumunan orang inilah yang --setidaknya bagi saya-- membentuk pesona. Para pakar dan pengamat politik, baik yang memiliki kompetensi akademik maupun yang sekadar mendapatkan status lantaran rajin mengoceh di media sosial, boleh-boleh saja berpandangan Jokowi dan pemerintahan yang dipimpinnya telah mengabaikan, menganiaya, dan memperkosa hak-hak masyarakat Papua. Sikap yang pastinya akan melahirkan kebencian tiada tara.

Namun apa yang terpampang dalam secarik foto tadi justru menyiratkan kebalikannya. Sulit menemukan jejak-jejak kebencian di sana. Orang-orang yang memotret Jokowi dengan wajah riang gembira. Dan perempuan setengah baya itu, yang berkaus oblong hijau pupus itu, tersenyum sembari meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Tempat di mana jantungnya terletak. Satu gestur yang menyimbolkan penghargaan tinggi dilandasi rasa cinta yang besar.

Ah, bukankah bisa saja perempuan itu merupakan orang suruhan? Iya, tentu saja. Kemungkinan ke arah ini memang sangat terbuka. Tapi sekali lagi, ada hal-hal di dalam fotografi yang tidak bisa menipu meski direkayasa, dimanipulasi, dengan cara paling canggih sekalipun. Satu di antaranya adalah keluguan: situasi yang menampilkan objek secara apa adanya.

Dalam hal manusia, keluguan menampilkan manusia dalam kemanusiaannya yang paling purba. Dan begitulah. Di mata saya (yang bisa benar tapi juga bisa salah), senyum lebar perempuan Papua itu, adalah senyum yang menyiratkan keluguan sempurna.

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved