Kontroversial, Kakek Penderita Kanker Ini Rekam Dirinya saat Minum Cairan Kematian

"Terima kasih Tuhan aku tidak perlu mandi lagi" adalah salah satu kalimat terakhir Max.

ABC
Max Bromson 

TRIBUN-MEDAN.com- Sebuah kisah mengejutkan datang dari seorang penderita kanker asal Australia.

Bukannya menunggu waktu kematiannya, pria bernama Max Bromson membuat langkah besar dalam hidupnya.

Kisah Max diungkap oleh keluarganya yang menjadi saksi hidup aksi kontroversial yang pria tersebut lakukan.

Kakek berusia 66 tahun ini telah didiagnosa menderita kanker tulang stadium akhir sejak tahun 2012.

Sejak mengetahui penyakit mematikan yang dideritanya, Max mulai melakukan pencarian informasi mengenai eutanasia.

Eutanasia adalah praktik pencabutan nyawa manusia atau hewan dengan cara yang tidak menimbulkan sedikit rasa sakit atau tidak sakit sama sekali.

Biasanya praktik ini dilakukan dengan memberikan suntikan atau minum sebuah cairan kematian.

Pencarian Max mempertemukannya dengan Philip Nitchke yang merupakan co-founder dari kelompok pendukung euthanasia Exit International.

Sejak saat itu, Max menjadi blak-blakan mengenai praktik ini.

Dilansir ABC, pada tahun 2012, Max mengatakan dia akan memutuskan sendiri kapan dia akan mengakhiri hidupnya.

"Aku akan memilih waktu kematian dan dengan cara apa aku mati," ungkapnya.

Pada tanggal 28 Juli 2014 pada pukul 1 pagi, Max mengajak anggota keluarganya untuk pergi.

Beberapa anggota keluarga termasuk anak-anak Max ikut serta menuju sebuah motel.

Dalam sebuah kamar, Max duduk di sebuah kursi. Adiknya, Kerry, merekam suasana dalam kamar tersebut.

Hal ini memang sengaja dilakukan untuk merekam tahap akhir perjuangan Max melawan kanker.

Video ini juga dibuat untuk alasan hukum. Mereka ingin menunjukkan bahwa aksi ini adalah pilihan murni dari Max tanpa paksaan siapapun.

Mereka melakukan hal ini atas dasar rasa cinta dan sayang terhadap Max.

Seseorang terlihat memberikan Max sebuah cangkir sambil mengatakan, "Aku bisa menuangkannya."

Namun Max menjawab, "Tidak, tidak, tidak, Jangan menyentuhnya."

Semua keluarga sempat mengatakan mereka mencintai Max sebelum dia melakukan aksinya.

Max kemudian meminum cairan eutanasia, Nembutal, yang mematikan. Tak lama kemudian tangan Max terkulai lemas, pertanda dia sudah meninggal.

Max telah merencakan kematiannya sejak lama.

Dia bahkan diam-diam berusaha mendapatkan obat eutanasia yang ilegal, Nembutal, dari luar negeri.

Kerry mengaku bahwa selama ini sang kakak sudah merasa sangat lelah dan tidak bisa menahan lebih lama lagi.

Gelas yang dia gunakan berisi cocktail yang telah dicampur Nembutal.

"Rasanya agak pahit," kata Max setelah meminumnya.

Sebelum meninggal, Max bahkan sempat membuat lelucon.

"Terima kasih Tuhan aku tidak perlu mandi lagi." adalah salah satu kalimat terakhir Max.

Seperti diceritakan Kerry, Max sangat kesakitan saat air menyentuh tubuhnya. Setelah hampir 3 menit, Max meninggal.

"Sangat menyenangkan bisa berada di dekatnya di saat-saat terakhir, senang bisa melihatnya pergi dengan damai," ungkap Kerry.

Sang adik mengaku bangga dengan langkah besar dan berani yang diambil oleh Max. Tentu saja, setelah kasus ini diungkap, banyak pihak menyerang keluarga Max.

Bahkan selama dua tahun ini, mereka takut dipidanakan karena membiarkan bahkan menyaksikan aksi ilegal Max. Namun, sekarang inilah saatnya mereka memperjelas apa yang terjadi dan membiarkan video tersebut diperlihatkan pada publik.

Dalam beberapa minggu ke depan, Lembaga Parlemen Australia Selatan akan membahas masalah eutanasia ini.Keluarga Kerry pun akan terus berjuang untuk melegalkan aksi ini.

Mereka ingin semua orang mempunyai hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.  (Anggraini Wulan Prasasti/Tribunstyle)

Sumber: TribunStyle.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved