Haru, Baru 3 Minggu Merasakan Jadi Ayah, Wartawan Tribun Berpulang

Belum genap sebulan rasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah, rekan kami, saudara, sekaligus sahabat untuk kami harus berpulang. Selamat Jalan Bima.

Editor: Muhammad Tazli
FACEBOOK
Almarhum Bima Chakti Firmansyah. 

TRIBUN-MEDAN.com - Belum genap sebulan rasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah, rekan kami, saudara, sekaligus sahabat untuk kami harus berpulang. Selamat Jalan Bima.

Bima Chakti Firmansyah, editor Tribunnewsbogor.com (Tribunnews Network) mengembuskan nafas terakhir, Selasa (1/11/2016) sekitar pukul 03.00 WIB (dini hari).

Berpulang di ruang ICU RSPKAD, Jalan Dokter Abdul Rahman Saleh No.24, Jakarta Pusat, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia.

Ini hari kedelapan pria itu tak duduk di mejanya.

Meja berukuran satu setengah meter yang ada di depan jendela berteralis putih.

Kursi kantoran yang ada di belakangnya pun diisi oleh orang yang berbeda.

Pria kelahiran 1 Februari 1987 bertubuh tidak kurus.

Kumisnya tipis, janggut di dagu acap kali dimainkan kala sedang lontarkan guyon.

Tak sering memang guyon itu dicetuskan oleh bibir tebal miliknya.

Suami dari Nizma Gathie Caktifa itu berprofesi sebagai editor setelah malang melintang di lapangan menjadi seorang jurnalis.

Lama, tapi yakinlah pengalaman itu belum cukup bagi bapak satu anak ini.

"Dahsyat, mantep tuh, manisan bu Atep,".

Katanya jika ada satu di antara kami yang meladeni celetukannya.

Selera guyonnya tak jarang memecah kebuntuan rekan seprofesi kala tengah jengah dengan topik berita.

Mantan wartawan Bogorplus.com dan kontributor Liputan 6 itu, baru saja menjadi seorang ayah.

Anaknya lahir pada 4 Oktober 2016.

Tiga hari sebelumnya, dia baru saja mendapat surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan tetap di TribunnewsBogor.com.

"Bang gua izin dulu yah, istri gua udah mules," ucapannya saat sedang merayakan ulang tahun kantornya pada 1 Oktober 2016.

Kekhawatirannya jelas membuat kami, rekan yang juga bekerja di media yang sama malah menjadi bahagia.

Buah hatinya lahir di dunia.

Baru sebentar ia rasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah.

Usia putranya pun belum genap 1 bulan.

Bang Bims, Big Bro Bim, Bima Boncos, begitu panggilan kami padanya.

Setiap hari, tepat pukul 06.00 WIB, Bima sudah siap menyambut mereka yang datang ke kantor.

Terkadang, saat datang pagi hari, sudah terlihat sejumlah sajian di meja komputernya.

Dari kopi, air putih, hingga mangkuk mi instan yang hanya tersisa kuahnya saja.

Dia menjalani tugas penting di kantor ini.

Akumulasi jumlah pembaca, sampai mengedit berita dari wartawan yang liputan di lapangan menjadi tanggungan baginya.

bima
Tribunnewsbogor - Bima Chakti Firmansyah saat dimakamkan, di TPU Unitex, Tajur, Selasa (1/11/2016)

Bima Chakti Firmansah, pria berperut buncit itu tak jarang beralih profesi menjadi seorang ayah di kantor ini.

Pria pendiam yang tak pernah mengeluh akan hal apapun, kecuali lapar.

"Di rumah juga sama teteh sudah tidak boleh makan malam-malam, cuma suka lucu kalau mergokin dia mindik-mindik bikin mi saat istrinya sudah tidur," kata adik kandungnya, Uwi.

Kami rindu, rindu akan hal-hal jayus yang malah membuat suasana menjadi sangat bahagia walau sejenak.

Kerinduan itu ludes dilibas oleh aneurisma.

Dia datang setelah Bima melontarkan candaan jayusnya soal komik Detectif Conan.

Sekitar 30 menit setelah dirinya berbuka puasa.

Meski sering bercanda, tapi dia merupakan sosok yang getol menjalani ibadah puasa pada hari Senin dan Kamis.

Candaan itu berubah menjadi ketegangan kala Bima meronta kesakitan menahan sakit di kepalanya.

Hingga membawa Bima pada sebuah alam mimpi yang tak jua menyadarkannya dari tidur.

Ketika aneurisma terjadi, maka pembuluh darah akan menggembung pada bagian tertentu.

Penonjolan bisa sangat kecil atau sangat besar, besarnya aneurisma akan menimbulkan tekanan pada organ sekitarnya.

Selain itu ada pula resiko pecahnya pembuluh darah, seperti sebuah balon apabila volumenya terus bertambah maka bisa pecah, begitu pula dengan balon aneurisma ini.

Bisa bayangkan apa yang terjadi ketika pembuluh darah arteri pecah.

Operasi yang dilakukan tim dokter RSPAD Gatot Soebroto mesti ditunda karena ada pembengkakan pada bagian otaknya.

Hingga akhirnya, Selasa (1/11/2016) Bima mengembuskan nafas terakhirnya pada pukul 03.20 WIB.

Sosok yang selalu menjadi andalan bagi delapan punggawa TribunnewsBogor.com.

Sosok yang sering kali menjadi contoh baik bagi teman.

Cukup sepi ini yang Mas Bima tinggalkan.

Sampai saat ini kesedihan atas meninggalnya Mas Bima selalu pudar kala kami mengingat berbagai kenangan bersama.

Terima kasih kisah hidup selama satu tahun.

Terima kasih pula sudah menjadi pria tangguh di tengah kerasnya usaha kami membangunkan Mas Bima dari mimpi delapan hari ini.

Selamat jalan Mas Bima, sampaikan salam kami pada seluruh bidadari yang menyambut kedatanganmu di surga nanti. (Tim TribunnewsBogor.com)

Sumber: Tribun Bogor
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved