Breaking News:

Ngopi Sore

Pak SBY, Maaf, Pak Jokowi Itu Bukan Penggemar Lagu Pop Menye-menye

Apakah artikel SBY memang tidak penting atau tidak menarik sehingga Jokowi memutuskan untuk tidak membacanya?

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KOMPAS.COM
SUSILO Bambang Yudhoyono 

Tapi sudahlah. Soal ini tidak perlu diperpanjang. Toh, kita semua sudah sama-sama tahu, sudah sama-sama paham dan mahfum, bahwa keragu-raguan dan SBY ibarat dua sisi mata uang. Lebih baik kita periksa saja pandangan dan saran-saran beliau. Siapa tahu memang ada yang betul- betul dapat menjadi solusi persoalan yang sedang dihadapi negara ini.

Artikel yang ditulis SBY adalah artikel yang panjang. Berikut spasi mencapai 14.472 character. Terdiri dari 2.015 kata, 172 baris. dan 20 paragraf. Namun bergerak dari baris ke baris, dari paragraf ke paragraf, harapan untuk menemukan solusi semakin kabur. Sebaliknya, dari baris ke baris, paragraf ke paragraf, yang menguat justru klaim-klaim SBY. Lebih tepatnya pembandingan-pembandingan, bahwa pemerintahannya lebih baik dari pemerintahan Jokowi.

Termasuk soal reaksi dalam menyikapi isu. "Saya jadi ingat dulu ketika ada "Gerakan Cabut Mandat SBY" di era kepresidenan saya. Sebenarnya, hakikat gerakan itu juga sebuah kehendak untuk melakukan makar. Saya tenang dan tidak panik."

jokowoww1
JOKO Widodo

Baca: Tak Kalah Heboh, Kini Sindirian Ahok Soal Lebaran Kuda ke SBY Banjir Komentar

Lalu bagaimana sikap Jokowi? Beberapa jam setelah artikel SBY tayang di satu media dalam jaringan (daring), seorang wartawan bertanya apakah Jokowi membaca artikel itu. Dan Jokowi, dengan cepat menjawab, "nggak".

Sekali lagi, 'nggak', atau 'tidak'. Bukan 'belum', yang bisa dimaknai sebagai 'belum membaca' tapi 'akan' atau 'terbuka kemungkinan' untuk membaca. Barangkali menunggu waktu luang atau momentum-momentum tertentu. Sedangkan kata 'nggak' atau 'tidak' pengertiannya final.

Sampai di sini muncul pertanyaan. Apakah artikel SBY memang tidak penting atau tidak menarik sehingga Jokowi memutuskan untuk tidak membacanya? Ada banyak kemungkinan dan --tentu saja-- hanya Jokowi yang bisa menjawab. Bisa jadi Jokowi memang tidak melihat hal apapun yang penting dari paparan panjang lebar SBY itu. Bisa jadi dia menganggap artikel tersebut sebagai curhat biasa saja.

Tapi di antara kemungkinan-kemungkinan tersebut, satu kemungkinan barangkali bisa dicuatkan. Bahwa SBY barangkali lupa bahwa Jokowi bukan penggemar lagu pop menye-menye. Jokowi adalah penggemar rock. Musik cadas dan riuh, dengan tempo cepat dan syair lagu yang serba lugas dan lebih berterus terang, tidak berpanjang-panjang, tidak berbunga-bunga, tidak berputar-putar sekadar untuk curhat bilang cinta dan rindu. Tidak menye-menye. Tidak alay.

Jadi begitulah, Pak SBY. Saya juga penggemar rock seperti Jokowi. Bedanya, saya membaca tulisan Anda. Saya membacanya dari kata pertama sampai kata ke 2.015. Tapi maaf, Pak, dari sekian panjang rangkaian kata yang Anda tuliskan, saya memang cuma tertarik pada kalimat penutupnya. Tidak ada gading yang tak retak.

Pepatah yang "pasaran" saja, sebenarnya. Pepatah yang anak SD sekalipun sudah menghapalnya di luar kepala. Akan tetapi, setidaknya, dengan menulis pepatah ini Anda telah membuat semacam perimbangan bagi dua "kalimat bijak" berbahasa Inggris yang Anda kutip di awal tulisan.

Pun demikian, sebenarnya Anda bisa menutup tulisan ini dengan cara yang lebih menarik dan aduhai. Anda hanya perlu menambahkan dua rangkai kalimat. "Maka atas nama keluarga besar gajah saya mohon maaf . Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian terima kasih."

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved