Ngopi Sore

Welcome Back, Pak Setnov! Sampeyan Keren :)

Para penarik kesimpulan terlalu meremehkan kemampuan Novanto. Sebab kemudian yang terjadi justru lesatan yang sungguh-sungguh aduhai.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
DILANTIK - Ketua DPR Setya Novanto (kanan) disumpah saat pelantikan dirinya menjadi Ketua DPR kembali pada Rapat Paripurna ke-14 di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2016). Rapat Paripurna memutuskan Setya Novanto kembali menjadi Ketua DPR menggantikan Ade Komaruddin untuk masa periode 2014-2019. 

APABILA satu pertunjukan telah terasa hambar dan penonton mulai kelihatan tak sabaran, menguap, sebentar-sebentar mengucek mata lalu melirik jam tangan, ini tandanya pertunjukan harus segera diselamatkan. Caranya? Bawa masuk para badut.

Maka badut dengan segala dandanan dan tingkah polah yang serba aneh ganti menguasai panggung. Badut-badut berpupur berhidung bulat merah yang berjumpalitan, saling dorong, bahkan menampar wajahnya sendiri demi membangkitkan kehambaran pertunjukan. Apakah badut sedungu itu? Tentu saja tidak.

Bagaimana membangkitkan tawa adalah seni yang rumit. Charlie Chaplin seorang jenius. Bob Hope jenius. Rowan Atkinson juga jenius. Adalah fakta pula bahwa kebanyakan pelawak merupakan orang-orang yang sangat serius dalam keseharian mereka.

Tahun 1973, Stephen Sondheim menulis lagu berjudul Send in The Clowns dan berkesimpulan badut bukanlah sosok, melainkan satu situasi yang dilahirkan oleh situasi yang lain. Satu satiris, satu parodi, yang secara tak langsung menampik "tesis" Chaplin. Badut adalah komedi dan tragedi yang tampak sekaligus dalam long shot maupun close up.

Tapi di luar panggung, setidaknya sampai sejauh ini, badut kembali ke fitrahnya yang paling purba. Sebagai sosok pandir. Bodoh-bodoh pintar. Pintar-pintar bodoh. Ditambah kadar kelicikan dan keculasan, jadilah mereka sosok-sosok paling menjengkelkan. Terutama sekali badut di ranah politik.

Badut politik semestinya tak harus ada. Keberadaan badut membuat politik yang semrawut menjadi semakin acak-kadut. Semakin tak karu-karuan. Namun yang terjadi justru kebalikannya. Semakin ke sini jumlah badut politik semakin banyak.

Di Indonesia, negeri di mana politik dan perpolitikan cenderung terpeleset ke arah "kontemporer", badut-badut politik mendapatkan lebih banyak panggung untuk memampangkan kebadutan mereka. Kebadutan yang sama sekali tidak menerbitkan senyum, tawa, terlebih-lebih kebahagiaan.

Satu pertunjukan kebadutan berjalan dengan mulus di Senayan. Di Gedung DPR RI. Dan bintangnya adalah Setya Novanto. Kemarin, dia dilantik menjadi Ketua DPR RI.

Tepatnya, dilantik kembali sebab sebelumnya dia didepak dari posisi itu lantaran ditengarai terlibat dalam kongkalikong kasus kolusi (dan mungkin juga korupsi?) menyangkut kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Waktu itu kasusnya sangat menghebohkan. Stasiun-stasiun televisi selama berhari-hari terus menyiarkan tiap detil perkembangannya. Banyak nama pembesar negeri yang tersangkut. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Novanto diduga mencatut nama Jokowi dan JK untuk --bersama-sama pengusaha Riza Chalid-- meminta saham pada PT Freeport. Hal yang kemudian memunculkan istilah populer, Papa Minta Saham.

SUDIRMAN SAID
MANTAN Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Sudirman Said

Kasus berkesudahan dengan pelengseran Novanto dari kursi Ketua DPR RI. Tak berselang lama, Sudirman Said, menteri yang membongkar kasus ini, didepak pula dari kabinet. Kedudukan sama kuat. Terlapor dan pelapor sama-sama dihilangkan dari peredaran.

Meski pada dasarnya tak bisa dibilang adil bagi Sudirman Said, kenyataan ini tidak banyak diributi. Toh, sasaran tembak utama, Setya Novanto, sudah jatuh. Karier politiknya yang penuh liku telah berakhir.

Tapi rupa-rupanya ini kesimpulan yang prematur. Para penarik kesimpulan terlalu meremehkan kemampuan Novanto. Sebab kemudian yang terjadi justru lesatan yang sungguh-sungguh aduhai. Ibarat pertandingan catur, langkahnya sama sekali tak terduga.

Disangka terdesak dan habis, ternyata menyimpan siasat untuk melancarkan serangan balik. Persis Bobby Fischer yang melakukan pengorbanan bidak untuk mengelabui Boris Spassky pada Kejuaraan Dunia 1972.

setnovv
KETUA DPR Setya Novanto (tengah) berfoto bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon (kedua kiri), Wakil Ketua DPR Agus Hermanto (kedua kanan), Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (kiri), dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (kanan) usai pelantikan Setya Novanto menjadi Ketua DPR kembali pada Rapat Paripurna ke-14 di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2016).

Tidak banyak yang mengira Setya Novanto akan memimpin Partai Golkar. Dan barangkali jauh lebih sedikit yang percaya dia akan kembali ke kursi yang ditinggalkannya dengan cara sangat memalukan itu. Tapi fakta berbicara lain. Dia mewujudkan keduanya. Golkar dulu, setelah itu melompat lagi ke DPR.

Benar-benar hebat! Hebat? Iya, hebat. Sebenar-benarnya hebat, dan keren. Jika bertemu Setya Novanto saya ingin menjabat tangannya, dan bilang, "Pak Setnov, sampeyan ini keren sekali. Kira-kira, apakah Anda berminat menularkan ilmu? Negeri ini punya banyak badut. Pencapaian ini jelas telah membuat sampeyan jadi inspirasi terbesar mereka. Setolol dan sedungu apapun mereka sekarang, pastinya mereka ingin jadi sehebat Anda." (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved