Breaking News:

Ngopi Sore

212-412: Antara Nurani dan Industri Politik Syak Wasangka

Politik adalah seni bermain curang. Tentu saja tetap ada kejujuran. Namun bentuknya bukanlah sebangsa kejujuran naif tokoh protatagonis di sinetron.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
WARGA memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia untuk mengikuti aksi 'Kita Indonesia', Jakarta, Minggu (4/12/2016). Aksi digalang Aliansi Kebangsaan Indonesia untuk mengkampanyekan kebhinekaan dan persatuan. 

Kedatangan Presiden Jokowi ke Monas untuk Salat Jumat bersama-sama para peserta aksi sama sekali tidak menyurutkan syak wasangka. Presiden disebut tak ikhlas. Presiden disebut cari muka. Presiden disebut merancang strategi busuk dan mengambilalih panggung. Yang terakhir berkenaan dengan penangkapan 10 orang yang diduga melakukan rencana makar dan Ahmad Dhani yang selama bertahun-tahun kerap jadi bahan liputan infotainment atas kasus-kasus yang serba memalukan mendadak dipuja-puja sebagai aktivis.

SYAK WASANGKA2
FOTO udara aksi 'Kita Indonesia', di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (4/12/2016).

Kubu pro Ahok dan pro Jokowi maupun pihak-pihak yang berada "di tengah dan selalu mencari celah keuntungan" tentu saja tidak tinggal diam. Aksi 212 disambut dengan aksi 412. Aksi yang sesungguhnya sama sekali tak perlu. Kebhinnekaan bukan ditunjukkan sekadar dengan kumpul-kumpul di Jakarta, menyemut di jalan raya dengan mengenakan pakaian-pakaian adat berbagai daerah. Ini pemahaman atas kebhinnekaan yang bukan saja keliru tapi lebih jauh sangat konyol sekali.

Lebih konyol lagi, di antara mereka yang ikut aksi 212 dan 412 kemudian saling berbalas klaim, berbalas sindir, berbalas ejek, berbalas risak. Tidak henti-henti sejak 212 digelar sampai 412 usai digelar. Bahkan kehadiran Presiden Jokowi di Stadion Pakansari Cibinong untuk menonton pertandingan tim nasional Indonesia di semifinal AFF Cup, dibawa masuk juga ke "medan pertempuran".

SYAK WASANGKA3
PRESIDEN Joko Widodo menyaksikan laga Semifinal Leg Pertama AFF CUP 2016 antara Indonesia melawan Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/12/2016). Timnas Indonesia mengalahkan Vietnam dengan skor 2-1.

Saya amat sangat percaya di antara jutaan orang yang terlibat dalam aksi 212 maupun 412 ada yang betul-betul ikut turun aksi atas dasar panggilan nuraninya. Mereka yang benar-benar merasa terhina atas ucapan Ahok dan memandangnya sebagai pendosa besar yang mesti diperangi dan mereka yang benar-benar merasa takut keutuhan negeri ini terganggu, lalu runtuh dan remuk dan ambruk menjadi sekadar remah-remah. Mereka turun aksi dengan ikhlas. Lillahi Taala. Demi Allah, dan juga demi bangsa dan negara.

Namun saya juga menaruh curiga. Lantaran keikhlasan ini, mereka tidak sadar bahwa ada kekuatan yang memanfaatkan. Kekuatan yang sejak awal, tepatnya sejak ribut-ribut Pemilu 2014, memang membangun dan menyetir industri baru. Industri politik syak wasangka. Politik klaim dan politik hoax. Industri yang bermain dua kaki: meraup keuntungan finansial sekaligus mencoba merecoki kekuasaan.

Apakah ini menyangkut ideologi? Sama sekali tidak. Apakah menyangkut agama? Antara ya dan tidak -meskipun kerap kali dikedepankan demikian. Sekali lagi, ada yang ikhlas dan tak sadar dimanfaatkan. Ada juga tak sadar ada pihak yang bermain namun larut di dalamnya.

Ideologi dan agama hendak dipaksakan sebagai alasan yang konkret. Padahal tidak. Ini hanya perkara menang dan kalah, dan dalam persaingan menang-kalah politik, ideologi dan agama memang menjadi ruang-ruang yang serba abstrak dan absurd. Seabstrak dan seabsurd perang Islam dan kafir dan komunis yang diletuskan dengan makin gegap-gempita, sekali lagi sejak 2014. Yang tidak abstrak dan tidak absurd adalah siasat dan kecerdikan, dan kadang kadang kelicikan.

Politik adalah seni bermain curang. Tentu saja tetap ada kejujuran. Namun bentuknya bukanlah sebangsa kejujuran naif tokoh-tokoh protatagonis di sinetron-sinetron nasional. Dalam politik tidak ada Haji Sulam atau Hana Sasmita yang begitu jatmika. Dalam politik, mengeruhkan air lalu mengail di sana dan berharap memperoleh ikan-ikan yang besar dan gemuk merupakan kronologis yang wajar belaka.

Tetapi, kelicikan yang kadarnya kelewatan, apalagi disertai amarah serba meletup-letup dan tak terkendali, hanya akan membuat segala upaya jatuh jadi kekonyolan yang sungguh-sungguh dungu. Dan media sosial memampangkan kekonyolan dan kedunguan tersebut dengan meriah, yang ironisnya, seringkali justru disalahmaknai sebagai pencapaian gemilang dan karenanya dengan bangga dipertontonkan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved