Ngopi Sore

212-412: Antara Nurani dan Industri Politik Syak Wasangka

Politik adalah seni bermain curang. Tentu saja tetap ada kejujuran. Namun bentuknya bukanlah sebangsa kejujuran naif tokoh protatagonis di sinetron.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
WARGA memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia untuk mengikuti aksi 'Kita Indonesia', Jakarta, Minggu (4/12/2016). Aksi digalang Aliansi Kebangsaan Indonesia untuk mengkampanyekan kebhinekaan dan persatuan. 

TERUS terang, saya gagal menahan tawa tatkala tanpa sengaja terperogok pada satu kiriman seorang pengguna internet di Facebook, beberapa hari lalu. Kiriman yang dapat saya lihat setelah diteruskan seseorang ke akun Facebook milik seorang lain yang berteman dengan saya.

Kiriman berupa gambar yang menunjukkan tiga orang sedang bersantap. Entah santap siang atau santap malam, tidak jelas benar. Pastinya, ketiga orang di dalam foto adalah Kepala Polisi RI Jenderal Tito Karnavian, kandidat Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan politisi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait.

Foto ini disertai keterangan (saya kutipkan sebagaimana aslinya): "biar foto yang berbicara... atas ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. acara minum2 MIRAS bersama. akibat sering gaul sama aHOK. hukum hanya tajam kebawah tumpul keatas."

Maka mau tak mau saya memang harus tertawa. Kenapa? Karena yang disebut miras (akronim minuman keras) adalah Equil, satu merek air mineral premium yang kemasannya sekilas pintas mirip kemasan minuman keras, terutama sekali champagne.

Kesalahkaprahan ini mendapatkan banyak reaksi. Di Facebook, juga di Twitter di mana kiriman ini diteruskan hingga ratusan kali, para pengguna internet ramai-ramai memberi komentar. Rata-rata lucu. Ada yang mengaitkannya dengan Pemilihan Gubernur Jakarta.

Kata pemberi komentar ini, siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur akan punya pekerjaan rumah berat lantaran jurang kesenjangan sosial di Jakarta sudah sangat lebar. Saking lebarnya, ada orang yang tidak pernah melihat botol Equil seumur hidupnya.

SYAK WASANGKA5

Di luar kelucuan-kelucuan yang mengemuka, perkara kesalahkaprahan botol air mineral ini memberi kita satu pelajaran penting. Atau barangkali lebih tepatnya peringatan. Betapa Indonesia sekarang berada dalam situasi "siaga satu" kecerdasan. Mungkin bukan kecerdasan an sich. Melainkan kecerdasan yang melorot karena kemalasan.

Malas memeriksa dan meneliti. Malas mencari referensi. Malas membaca. Malas melakukan apa yang justru seringkali dicecarkan dan digembar-gemborkan (dengan semangat untuk mengejek pihak yang dipersangkakan tidak melakukannya), tabayyun.

Dan akibatnya adalah kekacauan. Syak wasangka yang satu disambut syak wasangka yang lain. Tudingan dibalas klarifikasi dan dibalas lagi dengan tudingan baru. Media sosial riuh oleh perang risak yang berlangsung setiap hari selama 24 jam penuh.

Masih segar di ingatan perihal beredarnya foto seorang yang disebut sebagai Amelia Ayuningtyas, perempuan pendukung Ahok, pentolan kelompok relawan Teman Ahok. Hujatan mengemuka lantaran di foto tersebut "Amelia" terlihat "lancang" duduk di kursi Kapolri Jenderal Tito.

Para anti Ahok, berangkat dari syak wasangka mereka, menyusun teori kemungkinan bahwa sikap Tito atas rencana aksi 2511 (25 November) dan 212 (2 Desember) berhubungan erat dengan kedekatannya pada kubu Ahok.

Lalu apa yang kemudian terjadi? Ternyata salah orang. Bahkan yang disebut perempuan pada dasarnya adalah laki-laki, dan wartawan pula.

Tidak lama, muncul pula foto sejumlah ulama yang di antaranya diduga Habib Rizieq Shihab dan Ustad Soleh Mahmud (Solmed) dengan beberapa konglomerat Tionghoa, termasuk seorang yang ditengarai sebagai Tommy Winata. Foto yang segera disambut adu risak antara kubu pro Habib Rizieq (dan FPI) dengan para kontranya. Fokus adu risak adalah celana pendek para konglomerat. Celana pendek dipandang sebagai bentuk ketidakhormatan dan pelecehan terhadap ulama.

SYAK WASANGKA1
UMAT Islam melaksanakan salat Jumat saat Aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016). Massa aksi menggelar salat Jumat bersama lalu menggelar dzikir dan doa untuk kebaikan bangsa dan negara.

Pascapelaksanaan aksi 212 dan kemudian 412 (4 Desember), gelanggang pertempuran risak- merisak semakin riuh. "Tangkap Ahok "dan "Penjarakan Ahok" terus bergema kencang. Pun demikian "Turunkan Jokowi".

Kedatangan Presiden Jokowi ke Monas untuk Salat Jumat bersama-sama para peserta aksi sama sekali tidak menyurutkan syak wasangka. Presiden disebut tak ikhlas. Presiden disebut cari muka. Presiden disebut merancang strategi busuk dan mengambilalih panggung. Yang terakhir berkenaan dengan penangkapan 10 orang yang diduga melakukan rencana makar dan Ahmad Dhani yang selama bertahun-tahun kerap jadi bahan liputan infotainment atas kasus-kasus yang serba memalukan mendadak dipuja-puja sebagai aktivis.

SYAK WASANGKA2
FOTO udara aksi 'Kita Indonesia', di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (4/12/2016).

Kubu pro Ahok dan pro Jokowi maupun pihak-pihak yang berada "di tengah dan selalu mencari celah keuntungan" tentu saja tidak tinggal diam. Aksi 212 disambut dengan aksi 412. Aksi yang sesungguhnya sama sekali tak perlu. Kebhinnekaan bukan ditunjukkan sekadar dengan kumpul-kumpul di Jakarta, menyemut di jalan raya dengan mengenakan pakaian-pakaian adat berbagai daerah. Ini pemahaman atas kebhinnekaan yang bukan saja keliru tapi lebih jauh sangat konyol sekali.

Lebih konyol lagi, di antara mereka yang ikut aksi 212 dan 412 kemudian saling berbalas klaim, berbalas sindir, berbalas ejek, berbalas risak. Tidak henti-henti sejak 212 digelar sampai 412 usai digelar. Bahkan kehadiran Presiden Jokowi di Stadion Pakansari Cibinong untuk menonton pertandingan tim nasional Indonesia di semifinal AFF Cup, dibawa masuk juga ke "medan pertempuran".

SYAK WASANGKA3
PRESIDEN Joko Widodo menyaksikan laga Semifinal Leg Pertama AFF CUP 2016 antara Indonesia melawan Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/12/2016). Timnas Indonesia mengalahkan Vietnam dengan skor 2-1.

Saya amat sangat percaya di antara jutaan orang yang terlibat dalam aksi 212 maupun 412 ada yang betul-betul ikut turun aksi atas dasar panggilan nuraninya. Mereka yang benar-benar merasa terhina atas ucapan Ahok dan memandangnya sebagai pendosa besar yang mesti diperangi dan mereka yang benar-benar merasa takut keutuhan negeri ini terganggu, lalu runtuh dan remuk dan ambruk menjadi sekadar remah-remah. Mereka turun aksi dengan ikhlas. Lillahi Taala. Demi Allah, dan juga demi bangsa dan negara.

Namun saya juga menaruh curiga. Lantaran keikhlasan ini, mereka tidak sadar bahwa ada kekuatan yang memanfaatkan. Kekuatan yang sejak awal, tepatnya sejak ribut-ribut Pemilu 2014, memang membangun dan menyetir industri baru. Industri politik syak wasangka. Politik klaim dan politik hoax. Industri yang bermain dua kaki: meraup keuntungan finansial sekaligus mencoba merecoki kekuasaan.

Apakah ini menyangkut ideologi? Sama sekali tidak. Apakah menyangkut agama? Antara ya dan tidak -meskipun kerap kali dikedepankan demikian. Sekali lagi, ada yang ikhlas dan tak sadar dimanfaatkan. Ada juga tak sadar ada pihak yang bermain namun larut di dalamnya.

Ideologi dan agama hendak dipaksakan sebagai alasan yang konkret. Padahal tidak. Ini hanya perkara menang dan kalah, dan dalam persaingan menang-kalah politik, ideologi dan agama memang menjadi ruang-ruang yang serba abstrak dan absurd. Seabstrak dan seabsurd perang Islam dan kafir dan komunis yang diletuskan dengan makin gegap-gempita, sekali lagi sejak 2014. Yang tidak abstrak dan tidak absurd adalah siasat dan kecerdikan, dan kadang kadang kelicikan.

Politik adalah seni bermain curang. Tentu saja tetap ada kejujuran. Namun bentuknya bukanlah sebangsa kejujuran naif tokoh-tokoh protatagonis di sinetron-sinetron nasional. Dalam politik tidak ada Haji Sulam atau Hana Sasmita yang begitu jatmika. Dalam politik, mengeruhkan air lalu mengail di sana dan berharap memperoleh ikan-ikan yang besar dan gemuk merupakan kronologis yang wajar belaka.

Tetapi, kelicikan yang kadarnya kelewatan, apalagi disertai amarah serba meletup-letup dan tak terkendali, hanya akan membuat segala upaya jatuh jadi kekonyolan yang sungguh-sungguh dungu. Dan media sosial memampangkan kekonyolan dan kedunguan tersebut dengan meriah, yang ironisnya, seringkali justru disalahmaknai sebagai pencapaian gemilang dan karenanya dengan bangga dipertontonkan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved