Ngopi Sore

Air Mata Ahok

Di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dalam persidangannya, Ahok menangis. Dia menghentikan bicaranya dan menghapus air matanya yang menetes.

Air Mata Ahok
TRIBUNNEWS/CNN INDONESIA/SAFIR MAKKI/POOL
SIDANG AHOK - Gubenur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok mengikuti persidangan perdana kasusnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Selasa (13/12/2016). Ahok diajukan ke pengadilan terkait dugaan penistaan agama yang dilakukannya dalam satu acara di Kepulauan Seribu, September 2016. 

Saya sempat melongok sejenak ke media sosial namun kemudian cepat-cepat berpaling lagi. Saya merasa ngeri. Di sana, tangis Ahok, air mata Ahok, telah diterjemahkan ke berbagai rupa kesimpulan. Pro Ahok menyimpulkannya sebagai air mata ketertekanan. Sebaliknya kontra ahok memandangnya sekadar sebagai air mata buaya. Air mata pura-pura yang dikeluarkan seorang aktor kelas wahid.

Mana yang benar tentu cuma Ahok dan Tuhan yang tahu. Cuma Ahok dan Tuhan yang tahu apakah air mata itu tulus dan mengalir lantaran luka hati yang perih atau bagian belaka dari satu sandiwara politik ciamik.

Air mata luka hati adalah romantisme. Sedangkan air mata politik keluar dari tangis yang sistematis dan struktural. Tangis yang serba dirancang dan telah diperhitungkan rugi dan untungnya dan seberapa besar potensinya untuk mencapai tujuan.

Sebenarnya ada kemungkinan ketiga. Dalam Les Miserables, Victor Hugo menulis satu kalimat yang kemudian dicatat sebagai salah satu mutiara abad ini: "Those who do not weep, do not see." Iya, siapa yang tak menangis, (berarti) tak melihat.

Hugo menggunakan kata 'weep'. Bukan 'cry'. Bukan pula 'sob'. Dalam bahasa Inggris, ketiganya berarti serupa, yakni tangis, tetapi maknanya satu sama lain berbeda. Dan 'weep', adalah tangis yang paling mencekam. Tangis yang berangkat dari kesedihan mendalam. Tangis tanpa suara, meninggalkan senguk dan derai air mata karena guncangan emosi yang sungguh-sungguh berat. Tangis rohaniah yang sulit reda.

Tangis, yang menurut Victor Hugo, paling mustajab untuk membangkitkan empati dan simpati di satu sisi, dan kebenaran di sisi yang lain. Tangis yang menguatkan kepekaan untuk melihat.

Apakah tangis Ahok adalah 'weep'? Atau 'cry'? Atau sekadar sebangsa 'sob', tangis penuh keberisikan yang seringkali sesungguhnya tiada lebih dari kepura-puraan?

SIDANG AHOKKK2
GUBENUR DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok saat tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, untuk menjalani sidang kasus dugaan penistaan agama, Selasa (13/12/2016).

Ada banyak kemungkinan, tentunya, dan sekali lagi, meski di media sosial telah bertebaran para ahli nujum dan stasiun-stasiun televisi menyiarkan momentum tangis itu berulang-ulang, memang hanya Ahok dan Tuhan yang bisa memberikan jawaban paling sahih.

Tapi poin terpenting dari peristiwa di Pengadilan Negeri Jakarta Utara adalah betapa tangis ini makin menerangtegaskan satu kecenderungan: politik dan segenap silang sengkarutnya, yang dipaksakan untuk diperlawankan atau sebaliknya diboncengkan dengan agama, hanya akan membuat keduanya berjalan ke arah kekosongan.(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved